ACEH SELATAN | Ada kalanya, kedamaian tidak datang melalui kata-kata. Ia hadir dalam langkah yang perlahan, dalam senyum yang tulus, dan dalam sebuah rumah ibadah yang membuka pintunya bagi siapa saja yang ingin mendekat kepada Allah.
Ketika senja mulai membentangkan warna birunya yang lembut di langit, langkah kaki menyusuri jalan kecil menuju Mushala H. Muhammad Kasim di Gampong Suaq Hulu, Samadua. Bangunan yang berdiri sederhana namun anggun itu seakan memancarkan cahaya ketenangan bagi setiap hati yang datang.
Dinding putihnya yang bersih bukan sekadar warna, melainkan simbol kesucian niat dan harapan. Di balik jendela-jendela kaca yang besar, tampak seorang wanita berhijab, istri Ujank Kasim, yang selama ini setia menemani setiap langkah pengabdian suaminya.
Tatkala pandangan bertemu, ia menghadiahkan sebuah senyuman. Bukan senyum yang dibuat-buat, melainkan senyum yang lahir dari hati yang damai. Senyum yang seolah berkata tanpa suara, “Selamat datang, semoga Allah memenuhi hatimu dengan ketenangan.”
Perlahan kamera mengajak kita memasuki ruang utama mushala. Hamparan karpet hijau terbentang rapi. Beberapa anak dan jamaah duduk tenang menanti waktu ibadah. Tidak ada hiruk-pikuk, tidak ada kebisingan dunia. Yang ada hanyalah suasana khusyuk yang menenangkan jiwa.
Di tempat seperti inilah kita belajar bahwa kemegahan sebuah rumah ibadah tidak diukur dari ukuran bangunannya, melainkan dari seberapa banyak hati yang kembali mengingat Allah di dalamnya, seberapa banyak doa yang dipanjatkan, dan seberapa banyak ketulusan yang tumbuh di antara sesama.
Semoga setiap langkah menuju rumah Allah menjadi langkah yang mendekatkan kita kepada rahmat-Nya. Dan semoga setiap senyum yang kita berikan menjadi cahaya kecil yang menerangi hati orang lain.
Karena sesungguhnya, rumah Allah bukan hanya tempat untuk bersujud, tetapi juga tempat di mana kedamaian menemukan rumahnya di dalam hati setiap insan. Yun







