ACEH SELATAN | Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Samadua di Desa Jilatang, Kecamatan Samadua, setiap hari menyajikan Makanan Bergizi Gratis MBG sesuai dengan petunjuk tekhnis (Juknis) yang dianjurkan.
Chaidir Nasution, Kepala Juru Masak dapur SPPG Samadua mengatakan, mereka bekerja sesuai dengan aturan, selalu mengutamakan kebersihan dan kesehatan dalam penyajian untuk disantap para siswa.
“Semua harus tertata. Dari bahan baku, waktu masak, sampai rasa. Karena ini bukan sekadar memasak, tapi memberi energi untuk masa depan anak-anak,” papar Chaidir saat ditemui di sela kesibukannya, Jumat (10/10/2025)pagi.
Setiap hari, Chaidir dan timnya menyiapkan 2.222 porsi makanan untuk anak-anak sekolah penerima manfaat. Ia mengatur segalanya mulai dari kebersihan dapur, jadwal kerja, hingga koordinasi dengan ahli gizi.
“Kami mulai persiapan jam sebelas siang, dan baru selesai sekitar jam dua dini hari.
Bisa sampai dua belas jam kerja tanpa berhenti,” ucapnya sambil tersenyum.
Dalam program MBG yang digerakkan oleh Yayasan Ruang Kita Basamo, peran koki bukan hanya soal menumis dan menggoreng.
Chaidir juga menjelaskan, dirinya bertanggungjawab memastikan seluruh proses berjalan sesuai standar, higienis, dan tepat waktu.
Tugas koki di Makanan Bergizi Gratis MBG mencakup banyak hal, antara lain mulai dari perencanaan menu bersama ahli gizi, memeriksa bahan baku dari supplier, menjaga higienitas dapur, hingga mengatur distribusi agar makanan tiba di sekolah tepat waktu.
“Kalau bahan tidak premium, kita tolak. Karena anak-anak harus dapat yang terbaik,” tegasnya.
Di dapur itu, semua bergerak dengan ritme yang teratur. Ada tim pengupas, pencuci, penggoreng, penyaji, hingga pengantar makanan.
“Saya yang mengatur semua ritmenya. Kalau ada yang telat sedikit saja, bisa kacau. Jadi harus disiplin,” ujar Chaidir.
Selain rasa, penampilan juga jadi perhatian penting.
“Anak-anak itu makan pakai mata dulu. Jadi tampilannya harus menarik. Kalau tampilannya bagus, mereka semangat makan,” tambahnya.
Ahli Gizi Difa Mahfuzha, S.Gz, yang ikut menyusun menu dapur SPPG Samadua, mengatakan bahwa seluruh hidangan dibuat berdasarkan riset kebutuhan gizi anak sekolah.
“Prinsipnya sederhana anak-anak harus makan enak tapi tetap bergizi. Tidak hanya kenyang, tapi juga sehat dan bersemangat belajar,” paparnya.
Di balik 2.222 porsi yang tersaji setiap hari, ada tangan-tangan terampil yang bekerja untuk menjaga cita rasa, kebersihan, dan semangat hidup generasi penerus.
Dapur Jilatang bukan sekadar dapur. Ia adalah dapur cinta, tempat di mana gizi dan kasih sayang dimasak bersama.pungkasnya.
YUNARDI.M.IS







