Aceh  

DPRK Aceh Selatan Tinjau Tata Kelola Limbah Medis RSUD-YA Tapaktuan

dprk aceh selatan
Tim pansus Komisi III Anggota DPRK Aceh Selatan membidangi Kesehatan melakukan penilaian tata kelola, dan mekanisme pengelolaan limbah medis, meninjau RSUD-YA.(ist)

ACEH SELATAN | Tim pansus Komisi III Anggota DPRK Aceh Selatan membidangi kesehatan, meninjau tata kelola, dan mekanisme pengelolaan limbah medis RSUD-YA (Rumah Sakit Umum Daerah dr Yulidin Away) Tapaktuan berlangsung pada, Senin (13/06/2022).

Tim pansus Komisi III Anggota DPRK Aceh Selatan yang terdiri dari, Hernanda sebagai Ketua Tim Pansus, Yenni Roslizar Awailuddin dan Dedek Wali Fuadi, langsung melihat bagaimana tata kelola dan mekanisme pengelolaan limbah di rumah sakit tersebut.

“Kami sudah melihat dan meninjau secara langsung di lapangan, tata kelola dan mekanisme pengelolaan limbah di RSUD-YA Tapaktuan dipastikan aman dan steril,” capnya.

” Kami juga telah meninjau langsung yang bahwa mekanisme dan pengelolaan limbah medis di RSUD-YA Tapaktuan, yang berkaitan dengan ditemukannya limbah medis di TPA Pasieraja beberapa waktu lalu, belum bisa kita pastikan itu dari limbah medis RSU-YA,” ujarnya.

Hernanda menyampaikan, para petugas di RSUD-YA itu mengumpulkan setiap limbah yang ada secara maksimal, termasuk Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) untuk menghindari pencemaran lingkungan. Pengelolaannya pun butuh proses. Mengenai tumpukan limbah di TPA Pasieraja, kata Hernanda, bisa jadi berasal dari elemen dan lembaga lain.

“Untuk mengungkap kasus ini, perlu peninjauan yang akurat disertai pembuktian,” bebernya.

Sementara itu, Direktur RSUD-YA Tapaktuan, dr Syahmahdi kepada awak media juga menjelaskan, pihaknya membantah penemuan limbah medis di TPA yang ditemukan oleh tim monitoring Pansus DPRK dan telah membeberkan di beberapa media.

” Kita tetap membantah adanya limbah dari RSUYA Tapaktuan, dan pihaknya mendukung sepenuhnya penertiban pengelolaan limbah B3, untuk tercipta tata kelola kesehatan lingkungan di Aceh Selatan. Dengan mengikuti prosedural yang telah diterapkan oleh pemerintah,” katanya.

Syahmadi menjelaskan, limbah B3 terdiri dua jenis, yaitu infeksius dan non infeksius. Limbah infeksius terdapat dua golongan, yakni cair dan padat. Limbah cair diolah dengan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). setelah itu dialiri ke saluran umum dan diuji mutu air secara rutin di setiap tahun.

Syahmahdi menambahkan, limbah padat dipilah menjadi dua kantong dengan warna yang berbeda, domestik dimasukan dalam kantong plastik warna hitam, sedangkan mesis B3 plastik warna kuning. Pemilahan limbah padat ini dilakukan mulai dari ruang rawatan hingga tindakan medis.

“Limbah dalam kantong plastik hitam, dan diangkut menggunakan mobil angkutan sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Khusus limbah B3 dalam kantong kuning disimpan di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) dalam cool storage, dengan daya tampung berkavasitas delapan ton pada suhu mines nol derjat celcius,” terang Syahmahdi, didampingi Kepala Tata Usahanya (KTU) Rabialdi.

Lanjutnya, penyimpanan dilakukan secara maksimal dengan tenggat waktu selama 90 hari. Setelah rampung baru diangkut pihak ketiga, PT Universal Eco untuk dimusnahkan.

” Limbah padat seharusnya dibakar dengan incinerator, dengan suhu 800 sampai 1.200 derajat celcius. Sayangnya peralatan incinerator belum berfungsi dengan baik dan belum terbit izin. Biaya pemusnahan limbah B3 tahun 2022 sebesar Rp1,3 miliar,” tukasnya

Selain itu, ia menyebutkan alokasi anggaran sebesar Rp1,3 miliar untuk pengangkutan dan pengolahan dibayar rutin, dan dihitung secara detail berdasarkan lelang (kontrak).

“Limbah B3 tidak bisa dilakukan daur ulang, kecuali botol plastik infus yang tidak terkontaminasi cairan darah maupun tubuh pasien, sesuai Surat Edaran Menteri Lingkungan Hidup Nomor: B- 6251/Dep.IV/LH/PDAL/05/2013. Dengan rincian, harganya sangat murah dibandingkan biaya pemusnahan,” pungkasnya.

Reporter : Yunardi.M.IS.