Lagi, Siswa di Sejumlah Daerah Keracunan Massal MBG

Ilustrasi menu Makanan Bergizi Gratis (MBG). Dok Orbit Digital

MEDAN | Kasus siswa keracunan massal usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi di sejumlah daerah di tanah air dalam beberapa terakhir. Di Sumatera Utara kasus keracunan MBG dialami puluhan siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) 071123, Pulau Tello, Kabupaten Nias Selatan. Video yang memperlihatkan kejadian itu viral di media sosial sejak Rabu (25/2/2026). Kasus ini mengulang kejadian serupa yang sebelumnya terjadi di dua sekolah di Sidikalang, Kabupaten Dairi, sekitar dua pekan lalu.

Dilihat dari video yang beredar, para korban dengan masih mengenakan seragam sekolah terlihat didudukkan di kursi dan ada pula yang terbaring di ranjang di sebuah ruangan. Mereka terlihat menangis sambil memegangi perut. Tampak beberapa orang dewasa mencoba menenangkan mereka dan memberikan penanganan medis.

“Sekitar 60 siswa SDN 071123 Pulau Tello, Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara, dilaporkan mengalami dugaan keracunan setelah mengonsumsi MBG pada Selasa (24/2/2026),” tulis narasi dalam video tersebut.

“Para siswa saat ini masih menjalani perawatan di Puskesmas Pulau Tello untuk mendapatkan penanganan medis,” lanjut keterangan unggahan tersebut.

Humas Polres Nias Selatan Brigadir Polisi Alvin Larosa, membenarkan adanya kejadian itu. Alvin mengatakan peristiwa tersebut terjadi pada Selasa (24/2/2026) sekira pukul 11.30 WIB. Saat itu para siswa mendapatkan jatah MBG dari Yayasan Somahau Cahaya Kasih (SCK) .

“Pendistribusian MBG dilakukan kepada siswa SDN 071123 Pulau Tello pada pukul 11.15 WIB,” kata Alvin sebagaimana dilansir detikSumut, Kamis (26/2/2026).

Usai MBG didistribusikan dan disantap para siswa, salah seorang diantaranya melaporkan kepada guru berinisial CT bahwa ada seorang murid yang mengalami muntah.

“Salah seorang guru berinisial CT mengatakan bahwa seorang murid mengalami muntah setelah makan MBG,” ucapnya.

Tak berselang lama, ada sejumlah siswa yang sudah memakan menu MBG juga mengalami hal serupa. Pihak sekolah langsung bertindak cepat dengan menghentikan pendistribusian MBG agar tidak berdampak pada siswa lainnya.

“Pihak sekolah mengumumkan kepada seluruh siswa agar tidak mengonsumsi MBG tersebut karena sudah ada siswa yang muntah,” jelasnya.

Siswa yang diduga mengalami keracunan MBG lalu dibawa ke Puskesmas Pulau Tello dan poliklinik terdekat untuk menjalani perawatan medis.

“Dibawa ke Puskesmas Pulau Tello dan poliklinik,” ucapnya.

Menanggapi kejadian itu, sejumlah tokoh masyarakat Pulau-Pulau Batu bersama anggota DPRD Kabupaten Nias Selatan menyampaikan keprihatinan dan penyesalan.

Mengutip Sorot News, Kamis (26/2/2026), Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Pulau-Pulau Batu bersama DPRD Nias Selatan, Korwil dan Korcam SPPI, Kepala SPPG Bawofaomasi, tokoh masyarakat, serta anggota DPD RI yang sedang melakukan kunjungan kerja di wilayah tersebut langsung menggelar pertemuan untuk menyikapi insiden itu.

Pantauan di lapangan terlihat Anggota DPD RI, Pdt. Pentrad Siagian, turut hadir dalam pertemuan tersebut.

Menurut Anggota DPRD Nias Selatan Lulujatulo Sarumaha, hasil koordinasi dengan pihak Badan Gizi Nasional (BGN) memutuskan untuk menutup sementara operasional Dapur SPPG Bawofaomasi guna mencegah kejadian serupa terulang.

“Penutupan ini sebagai langkah pencegahan agar tidak ada korban lanjutan serta menunggu evaluasi dan pemeriksaan lebih lanjut,” ujarnya.

Sikap cepat yang diambil oleh pihak terkait, termasuk BGN, DPRD Nias Selatan, serta tokoh masyarakat, mendapat apresiasi dari warga Kepulauan Batu.

Anggota DPRD Nias Selatan lainnya, Amoni Zega menyatakan, langkah tegas tersebut diharapkan menjadi evaluasi menyeluruh bagi seluruh pengelola SPPG agar lebih berhati-hati dan profesional dalam menjalankan program MBG.

“Ini harus menjadi pelajaran bersama agar pelaksanaan program pemerintah benar-benar mengutamakan keselamatan dan kesehatan anak-anak,” ujarnya.

Sementara itu pihak terkait masih melakukan pendalaman untuk mengetahui penyebab pasti dugaan keracunan tersebut, termasuk pemeriksaan terhadap sampel makanan yang dikonsumsi para siswa.

Kasus Keracunan MBG di Cimahi dan Lampung

Hampir di waktu bersamaan, kasus dugaan keracunan massal MBG juga terjadi di daerah lain. Mengutip laporan sejumlah media, di Kota Cimahi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, puluhan orang terdiri mayoritas murid TK dan seorang guru mengalami gajala keracunan usai menyantap menu MBG pada Kamis (26/2/2026). Para korban harus menjalani perawatan medis di sejumlah RS setempat.

Sementara dapur SPPG Karangmekar 002 yang mendistribusikan MBG ke sekolah TK tersebut dihentikan sementara.

Wali Kota Cimahi, Ngatiyana, menegaskan operasional dapur dihentikan total sambil menunggu hasil evaluasi. Koordinator Wilayah SPPG Cimahi menyebut kejadian ini sebagai yang pertama dan menjadi bahan evaluasi menyeluruh, terutama terkait pengolahan dan distribusi makanan, yang diduga tak sesuai anjuran menu tahan lama selama Ramadan.

Kasus serupa juga terjadi di SD Negeri 1 Kibang, Kecamatan Menggala, Kabupaten Tulangbawang, Lampung. Sejumlah siswa, guru, hingga orangtua mengalami mual dan muntah usai menyantap menu MBG berupa telur asin, roti, dan biskuit. Para korban dirawat di RSUD Menggala dan klinik setempat.

Berdasarkan catatan Helo Indonesia, sepanjang Agustus 2025 hingga Februari 2026, sedikitnya 10 kasus dugaan keracunan MBG terjadi di berbagai daerah di Lampung. Pemerintah daerah di Lampung menyatakan akan memperketat pengawasan SPPG dan memastikan pelaksanaan program sesuai standar Badan Gizi Nasional.

Penyebab Keracunan MBG di Dairi

Sementara itu Pemerintah Kabupaten Dairi, Senin (23/2/2026) menyampaikan hasil uji laboratorium terkait dugaan keracunan massal dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa ratusan siswa di SMK HKBP dan SMK Arina Sidikalang pada 9 dan 10 Februari 2026 lalu. Hasil pemeriksaan Laboratorium Kesehatan Daerah Sumatera Utara pada 13–18 Februari 2026 menemukan indikasi kuat kontaminasi bakteri pada sejumlah menu MBG yang disajikan kepada siswa.

Kepala Dinas Kesehatan Dairi, Henry Manik, menyebutkan pada sampel makanan di SMK HKBP ditemukan bakteri Staphylococcus aureus dan Bacillus cereus pada nasi putih serta kapang khamir pada gulai ayam. Sementara di SMK Arina, ditemukan kapang khamir pada nasi, serta total coliform pada tumis tauge dan tempe goreng tepung. Gejala yang muncul antara lain mual, muntah, diare, dan sakit perut, yang mengarah pada keracunan akibat kontaminasi pangan.

Dugaan sementara, kontaminasi dipicu rentang waktu terlalu lama antara proses memasak dan konsumsi, ditambah suhu penyimpanan serta distribusi yang tidak memenuhi standar keamanan pangan. Fakta ini menyoroti lemahnya pengawasan dalam rantai produksi dan distribusi makanan program tersebut.

“Seluruh sampel makanan (yang diuji laboratorium) diambil dari bank sampel makanan SPPG bersangkutan,” jelas Henry dalam kegiatan yang berlangsung di Ruang Rapat Bupati Dairi tersebut.

Bupati Dairi Vickner Sinaga yang memimpin langsung penyampaian hasil uji laboratorium itu, menegaskan tidak akan menolerir kelalaian dalam penyediaan makanan bagi siswa di wilayah.

Ia memastikan evaluasi menyeluruh akan dilakukan terhadap sistem pengadaan, pengolahan, hingga distribusi MBG, meski program ini merupakan bagian dari Program Strategis Nasional. “Namun keselamatan dan kesehatan siswa adalah prioritas utama,” tegasnya didampingi Wakil Bupati sekaligus Ketua Satgas Percepatan MBG Kabupaten Dairi, Wahyu Daniel Sagala,.

Sebanyak 280 siswa yang terdampak keracunan dilaporkan telah mendapat perawatan medis dan kini kembali bersekolah. Biaya pengobatan selama dirawat di RSUD Sidikalang, RS Serenapita, serta sejumlah fasilitas kesehatan lainnya ditanggung Badan Gizi Nasional (BGN).

Pemerintah daerah juga mendesak peningkatan pengawasan, khususnya terkait kepemilikan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), penerapan standar keamanan pangan nasional, serta kepatuhan terhadap prosedur operasional.

Korwil BGN Dairi dan Pakpak Bharat Pahlawan Nasution menyampaikan bahwa pasca-kejadian dugaan keracunan di dua sekolah tersebut, operasional SPPG Sidikalang III telah dihentikan sementara hingga waktu yang belum ditentukan.

“Operasional SPPG Sidikalang III dihentikan sementara. Pembiayaan pengobatan siswa selama dirawat di rumah sakit ditanggung melalui DIPA BGN. Kami juga akan melakukan evaluasi dan audit menyeluruh terhadap SOP produksi dan distribusi,” jelasnya. (dts/sn/bs/OM-03)