Nenek Penjual Pisang di Pasar Lelo Dapat Teror, Ban Sepedanya Dikempesi OTK di Tengah Jalan

Nenek Katinem (62) saat menceritakan kejadian teror yang dialaminya kepada wartawan, di depan rumahnya, Selasa (8/2/2022). (Foto/Pujianto).

SERGAI I Aksi teror dialami oleh Katinem, nenek berusia 62 tahun warga Dusun 1 Desa Simpang Empat Kecamatan Sei Rampah, Kabupaten Serdang Bedagai yang berprofesi sebagai pedagang pisang dan kuwe, dimana pada hari minggu tanggal 6 Pebruari 2022 yang lalu, ia dihadang oleh 3 OTK dan kemudian ban sepedanya dikempesi di tengah perkebunan Rambung estate saat nenek katinem hendak menuju ke tempat jualanya di pasar lelo Desa Firdaus Kecamatan Sei Rampah.

Kejadian ini diketahui setelah pengelola pasar lelo Misdaini Harahap mendengar hal ini pada hari Senin sore tanggal 7 Pebruari 2022 dan menyampaikanya kepada beberapa wartawan, selasa 8 Pebruari 2022. Beberapa wartawan pun kemudian mendatangi kediaman Nek Katinem di Dusun 1 Desa Simpang Empat Kecamatan Sei Rampah.

Kepada beberapa wartawan, nenek yang tinggal bersama cucunya, Febiola saputri( 10 ) ini menceritakan peristiwa yang dialaminya pada minggu ( 6/2 ) yang lalu. Menurutnya bahwa seperti biasa dirinya setiap hari minggu berjualan pisang dan kuwe di pasar Lelo, namun pada hari itu Minggu ( 6/2 ) ditengah perjalanan tepatnya ditengah perkebunan Rambung estate (sekitar satu kilo setengah kilometer dari rumhanya ), nek Kattinem dihadang oleh 3 OTK yang mengendarai dua sepeda motor. Karena dikira mau beli pisang, korban pun turun dari sepedanya

Kemudian menurutnya, satu orang yang tidak berboncengan turun dari sepeda motor dan bertanya, nenek mau jualan kemana, pertanyaan itu langsung dijawab nek Katinem dengan berkata mau jualan ke Lelo, dan kemudian dijawab lagi oleh seorang pelaku yang tidak berboncengan tadi.

“lelo tutup” kata pelaku yang ditirukan oleh nek Katinem.

sesaat itu pula satu dari dua orang yang berboncengan langsung turun dan mengempesi ban sepeda bagian depan dan belakang milik nek Katinem dan kemudian meninggalkan korban begitu saja.

Tanpa daya, korban pun memilih pulang meski harus menanggung kerugian karena barang jualanya senilai Rp. 300.000 tidak jadi dijual.

”Aku takutlah karena mereka lanang lanag ( laki laki –red ) semua”. tutur nek Katinem dengan logat jawanya yang kental.