TOBA | Pemkab Toba gelar Sosialisasi Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak Tahun 2025
melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Perempuan dan Perlindungan Anak (DPMD PPA) Kabupaten Toba, di Aula HKBP Sitorang (09/09).
Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari Batak Center Ir Tua Pangaribuan), Kapolres Toba AKBP VJ Paparaga , Wakil Bupati Toba Drs Audy Murphi O Sitorus serta diikuti oleh 250 peserta yang terdiri dari perwakilan organisasi perempuan, tokoh agama, dan para kepala sekolah dari jenjang SD hingga SMA sederajat, Kepala Desa se Kecamatan Silaen
Dalam sambutan Bupati Toba Effendi Napitupulu yang diwakili Wabup Audy Murphi O Sitorus ditegaskan bahwa kekerasan bisa terjadi kepada siapa saja, di lingkungan manapun, tanpa memandang usia maupun jenis kelamin, namun, perempuan dan anak-anak masih menjadi kelompok paling rentan terhadap berbagai bentuk kekerasan, termasuk kekerasan seksual yang kerap terjadi di lingkungan rumah tangga maupun sosial.
“Data dari aplikasi SIMFONI KemenPPPA mencatat hingga 09 September 2025 terdapat kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Indonesia, dan sebagian besar di antaranya merupakan kekerasan seksual,” lanjutnya.
Dalam sambutan tersebut, Wakil Bupati juga menyoroti peran teknologi digital yang meski memberikan akses luas terhadap informasi dan pendidikan, namun di sisi lain dapat memicu masalah kesehatan mental, serta membuka potensi paparan terhadap konten negatif seperti kekerasan, pornografi, dan hoaks.
“Peran serta masyarakat dan keluarga sangat penting sebagaimana diamanatkan dalam UU TPKS. Pencegahan, pendampingan, pemulihan, hingga pemantauan tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah semata, tetapi memerlukan keterlibatan aktif seluruh elemen,” tegasnya.
Kegiatan sosialisasi ini menjadi bagian dari komitmen Pemkab Toba dalam menciptakan lingkungan yang aman dan ramah bagi perempuan dan anak, upaya edukasi dan peningkatan kesadaran masyarakat terus digencarkan agar kasus kekerasan dapat ditekan, dan korban berani melapor serta mendapatkan perlindungan dan keadilan
Dalam paparannya Kapolres Toba AKBP VJ Paparaga S.I.k mengatakan tingginya angka kekerasan terhadap anak dan perempuan karena adanya kesempatan dan kurangnya pengawasan, dikatakannya bahwa kekerasan itu lebih baik pencegahan daripada pemberantasan, oleh karena itu perlu pembekalan iman secara rohani kepada masyarakat
Dalam pemaparannya Brigpol Monica Simanjuntak selalu Kanit PPA Polres Toba menekankan bahwa tingginya tawaran permainan aplikasi Gagdjet ikut memicu penyebab tingginya angka kejahatan terhadap anak, contohnya permainan yang menawarkan kekerasan dan kemampuan anak menekan emosi diri.
Plt Kadis PMD Toba Melati Silalahi berterima kasih atas kehadiran seluruh narasumber dan peserta sehingga acara sukses demi tercapainya angka zero KDRT terhadap perempuan dan anak.
Maria







