MEDAN | Perayaan Waisak 2025 yang jatuh pada hari Senin (12/5/2025) adalah momentum bagi seluruh umat Buddha untuk mengenang dan merenungkan kembali makna spritual dengan semangat yang dikandung dalam tiga peristiwa agung, yaitu Kelahiran Pangeran Siddhartha Gautama di Lumbini; Tercapainya Penerangan Sempurna di bawah pohon Bodhi di hutan gaya; dan Parinirvana Buddha Gautama di Kusinara.
Ketiga peristiwa penting ini semuanya terjadi pada bulan purnama di bulan Waisak, yang merupakan bulan ke-5 sistem penanggalan pada masa Buddha Gautama.
Waisak dirayakan oleh umat Buddha di Indonesia pada bulan purnama di bulan Mei ini dan merupakan kegiatan rutin yang dilakukan Persaudaraan Muda-Mudi Vihara Borobudur (PMVB), Kota Medan.
Perayaan Hari Raya Tri Suci Waisak 2569 BE/ 2025 dengan tema “Semangat Kebersamaan Untuk Indonesi Maju” di Vihara Borubudur sempat dikunjungi Kapolrestabes Medan Kombes Pol Gideon Arif Setiawan. Kunjungan Kapolres merupakan pengecekan dalam pengamanan Hari Tri Suci Waisak
Dalam momentum Waisak tersebut, Vihara Borobudur Jalan Imam Bonjol, Medan mengadakan serangkaian puja bakti selama 3 hari berturut-turut. Dimulai dari tanggal 12 hingga 14 Mei 2025. Selain itu juga diadakan Prosesi Lilin, Dhammadesana, Puja Malam Waisak, Pemandian Buddha Rupan, dan lainnya.
Andi Krishnaputra selaku Anggota Yayasan Vihara Borobudur menyampaikan makna perayaan Waisak yang merupakan 3 tahap yang terjadi pada sang Buddha
“Hari raya Waisak yang ke 2569 merupakan tiga tahap yang terjadi pada kehidupan sang Buddha. Ketika beliau sampai nirwana. Di sini semua sekte Buddha diizinkan dan dipersilakan untuk beribadah bersama.Di mana kita lihat di sini ada kebaktian, makan siang juga perayaan, dan doa-doa lainnya yang berlangsung dari tanggal 11 sampai 14 Mei 2025,” tuturnya
Ia juga menambahkan pemandian patung Buddha merupakan ritual sebagai pendekatan dan penghormatan kepada sang Buddha.
“Pemandian patung Buddha rupan bukanlah bagian dari ritual saja. Melainkan sebagai mengukuhkan kedekatan juga penghormatan kita kepada sang Buddha. Tapi sebenarnya maknanya lebih jauh bukan hanya sekadar ritual saja tapi makna spritual di dalamnya. Bagaimana kita bisa menjaga kedamaian dalam diri kita.”
Andy berharap perayaan Waisak bisa menjadi suatu tempat atau hari di mana memberikan kedamaian serta kebahagiaan yang memberkahi bagi semua. “Bisa hidup dalam kebersamaan dan bertoleransi,” pungkasnya.
Sementara Jennifer salah seorang pengunjung perayaan Waisak di Vihara Borobudur yang berasal dari Kota Pematang Siantar mengatakan
berkunjung ke vihara untuk memperingati lahirnya Sidharta Gauthama.
“Saya berasal dari Kota Pematang Siantar dalam perayaan Waisak ke Vihara Borobudur bersama keluarga untuk memperingati makna kembali hari lahirnya Sidharta Gauthama.
Sepertinya setiap tahun makin ramai dengan harapan semoga semua makhluk di sini walaupun yang tidak terlihat, semuanya bisa berbahagia,” ucapnya. (OM-11)







