Polres Pakpak Bharat Dituding Tak Profesional Usut Laporan Hoax Covid-19

oleh -212 views
Rinto Maha. (orbitdigitaldaily.com/Diva Suwanda)

MEDAN – Rinto Maha, kuasa hukum dari pelapor kasus dugaan pelanggaran Undang-Undang (UU) Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) menuding Polres Pakpak Bharat tak profesional.

Ia menuding, ketidakprofesionalan penanganan laporan itu bermuara di tangan Kasat Reskrim Polres Pakpak Bharat, AKP Rasli Alfianto Turnip.

Dikonfirmasi orbitdigitaldaily.com, Rinto menyebut AKP Rasli Alfianto Turnip tak profesional karena tak kunjung menaikkan status LP yang dibuatnya, tentang berita bohong soal Covid-19 dengan bukti lapor No.STPLP/18/V/2020/PB/SPK tanggal 8 Mei 2020. 

Rinto menilai, AKP Rasli Turnip tidak mematuhi Perkap penanganan laporan polisi mengenai berita bohong soal Covid-19.

“Ini tak jelas penanganannya, mau main-main dia (AKP Rasli Alfianto Turnip). Jadi saya bilang ke dia, jangan main-main, tuntaskan saja. Kalau tidak professional nanti kita laporkan, ditantangnya saya, silahkan laporkan. Karena sang kasat mengatakan silahkan laporkan, ya saya laporkanlah langsung ke Kapolda Sumut ” ungkap Rinto Maha.

Dia kembali menegaskan, indikasi ketidakprofesionalan AKP Rasli Turnip karena yang bersangkutan pernah tersangkut masalah pidana di PN Pakam.

Sekaitan itu, Rinto telah melaporkan tudingan tak profesionalnya Kasat Reskrim Polres Pakpak Bharat ke Kapolda Sumut.

“Kapolda Sumut dalam WhatsApp (WA) kepada saya, akan meninjau mengenai peristiwa pidana hukuman delapan bulan tersebut. Kita akan mendesak agar oknum ini sampai dicopot, ini mengenai kepatutan,” katanya. 

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Pakpak Bharat, AKP Rasli Turnip yang dikonfirmasi membantah dirinya tak profesional.

Terkendala Pelapor Tak Bisa Diperiksa

Menurutnya, laporan dugaan pelanggaran UU ITE yang dilaporkan 8 Mei 2020 lalu terkendala karena pelapor tidak bisa diperiksa karena berada di Jakarta.

“Coba tanya ke dia (Rinto Maha) sudah berapa lama korbannya diperiksa. Terlambat karena korbannya selama ini di Jakarta. Jadi kami panggil korbannya untuk diperiksa baru Sabtu (13/6/2020) kemarin,” tutur Rasli.

Ia meyebut, sekaitan laporan itu pihaknya telah melakukan gelar perkara di Ditreskrimsus Polda Sumut.

“Jadi sekarang kami lagi gelar di Ditreskrimsus Polda Sumut, lagi di sini kami gelar. Jadi kalau dibilang tidak profesional itu, berbulan-bulan tidak ditangani. Ini korbannya, Frans Bernhard Tumanggor, dia baru bisa diperiksa kemarin karena selama ini terkurung di Jakarta karena Covid-19, tidak bisa ke Medan,” sebutnya.

“Makanya coba tanya lagi korbannya kapan bisa diperiksa. Baru seminggu (sepekan) korban diperiksa. Tadi saya sudah paparkan langsung ke Dir Krimsus bersama Kabag Wassidik.Kan gak bisa kami naikkan statusnya ke sidik (penyidikan) sementara korbannya belum diperiksa,” tambahnya lagi.

Ia kembali membantah soal tudingan tak profesionalnya kerja mereka.

“Jadi jangan bilang tak professional, kami jemput bola bang. Kemana mau diperiksa. Nah jadi apa lagi, kurang apa lagi,” pungkasnya.

Diketahui Rinto Maha sebagai kuasa hukum dari pelapor Frans Benhard Tumanggor melaporkan ASB karena diduga melakukan pelanggaran UU ITE terhadap kliennya melalui media sosial facebook. (Rel/Diva Suwanda)