Sementara itu Kepala BKKBN Hasto Wardoyo menyampaikan sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021, maka percepatan penurunan stunting harus menjadi perhatian utama oleh seluruh pemangku kepentingan.
“Stunting menjadi ancaman kualitas generasi muda kita dan juga kualitas bangsa kita ke depan sehingga stunting harus kita turunkan secara bersama-sama,” katanya.
Mencapai bonus demografi ini, tambah Hasto, Indonesia dihadapkan masalah generasi yang jumlahnya cukup besar.
“Izin saya sampaikan bahwa generasi muda saat ini mengalami stunting 24,4 %, kemudian 9,8 % mengalami mental emotional disorder, 5 % Napza, 1 % autisme, dan 3 % penyandang difabel. Generasi kita yang kurang optimal itu hampir 40 % lebih, dan yang terbesar adalah stunting,” ujarnya.
Hasto menambahkan, di tahun 2035 mendatang populasi orang tua (aging population) cukup besar dengan pendidikan sebesar 80% tidak lulus SMP.
“Pendidikannya 80% tidak lulus SMP sehingga tidak produktif oleh karena itu ketika generasi mudanya tidak produktif maka window opportunity atau bonus demografi akan tertutup di tahun 2035 dan kita kemudian belum sempat sejahtera oleh karena itu inilah pentingnya investasi menyiapkan SDM terbaik di masa depan,” ujarnya.
Hasto dalam kesempatan tersebut juga menyampaikan apresiasinya terhadap Pemerintah Provinsi Sumatera Utara yang telah memberikan dukungan kepada BKKBN dalam rangka penyelenggaraan Harganas ke-29 di Kota Medan. (Red)







