MEDAN | Yayasan Rumah Ceria Medan (YRCM) hadir sebagai wadah bagi anak-anak disabilitas di Kota Medan. Dengan konsep sekolah inklusif, yayasan ini didirikan oleh Yuli Yanika atau akrab disapa Uye, bersama Risa selaku wakil pendiri dan sekretaris YRCM. Risa merupakan alumni Ilmu Komunikasi Universitas Sumatera Utara (USU) angkatan 2011.
Kedekatan Uye dengan dunia disabilitas berawal dari pengalamannya sejak kecil yang akrab dengan anak-anak berkebutuhan khusus. Dari pengalaman itu, tumbuh empati dan dorongan kuat dalam dirinya untuk menciptakan ruang belajar yang ramah bagi semua anak tanpa memandang kondisi fisik mereka.
Sekolah ini berada di Jl. Bunga Cempaka VII No.41 Y, Padang Bulan Selayang II, Kecamatan Medan Selayang, Kota Medan.
Perjalanan Uye dimulai ketika ia bekerja sebagai pengajar di sebuah sekolah alam pada 2013. Di sana, ia menyadari adanya jarak komunikasi antara anak disabilitas dan non-disabilitas.
Ia melihat bagaimana anak-anak disabilitas sering kesulitan mengekspresikan diri dan diterima dalam interaksi sosial. Dari keprihatinan itu, Uye berinisiatif membangun Sanggar Kreativitas, sebuah wadah bagi anak disabilitas untuk menyalurkan bakat dan ekspresi diri mereka.
Melalui sanggar tersebut, Uye bersama teman-teman komunitas peduli difabel membuka berbagai kelas seperti tari, fotografi, dan kegiatan pembelajaran mingguan yang menumbuhkan rasa percaya diri. Sanggar ini menjadi tempat hangat bagi banyak anak disabilitas di sekitar lingkungannya.
Namun perjalanan itu tidak selalu mudah. Pada 2018, Uye menghadapi kasus seorang anak disabilitas intelektual yang mendapat perlakuan tidak menyenangkan. Pengalaman tersebut mengguncang hatinya, sekaligus meneguhkan tekadnya untuk menciptakan tempat yang lebih aman dan berkelanjutan. Maka pada 2019, berdirilah YRCM sebagai lembaga pendidikan sekaligus ruang perlindungan bagi anak disabilitas.
“Cita-cita saya sederhana, saya ingin Rumah Ceria Medan menjadi sekolah alam tempat anak-anak belajar dengan bebas, dekat dengan lingkungan, dan tumbuh tanpa batas,” ungkap Uye, Jumat (7/11/2025).
Menurutnya YRCM tidak hanya berfokus pada akademik, tetapi juga pada karakter, empati, dan kemandirian. Selain menjadi sekolah inklusif, YRCM menjalankan berbagai program seperti pendidikan berbasis inklusi, pendampingan disabilitas di masyarakat, tuli mengaji, kemah inklusif, serta program edukasi seksual bertajuk “Tumbuh Tanpa Rasa Takut.” Belakangan, YRCM juga memperkenalkan program Artificial Intelligence (AI) untuk remaja disabilitas, menunjukkan bahwa keterbatasan tidak menghalangi mereka mengikuti perkembangan zaman.
Dalam setiap kegiatan, YRCM bekerja sama dengan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) dan Pengadilan Tinggi Medan, agar anak-anak disabilitas dan keluarga mereka mendapat akses hukum dan perlindungan resmi. Dukungan ini menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem inklusi yang berkelanjutan.
Ia mengatakan saat ini, YRCM memiliki tujuh pengajar dan seorang psikolog yang aktif memberikan pendampingan.
“Ciri khas YRCM adalah penggunaan bahasa isyarat sebagai bahasa utama dalam kelas. Baik anak disabilitas maupun non-disabilitas diwajibkan berkomunikasi dengan bahasa isyarat. Bagi YRCM, bahasa menjadi jembatan yang mempersatukan, bukan tembok yang memisahkan,” ujarnya.
Kini, YRCM menjadi simbol harapan dan inklusivitas di Kota Medan. Di balik setiap senyum anak disabilitas yang belajar di sana, tersimpan keyakinan bahwa masa depan mereka tetap cerah selama ada ruang untuk diterima dan kesempatan untuk berkembang.
“Saya ingin anak-anak disabilitas bisa hidup berdampingan di tengah masyarakat tanpa dibedakan. Mereka punya kemampuan untuk hidup mandiri, asal ada orang-orang yang mau mendukung dan percaya pada mereka,” pungkasnya. (Red/Grace)







