Hasil Uji KLB Pangan di Aceh Selatan: Makanan MBG tak Memenuhi Syarat

Hasil Uji KLB Pangan di Aceh Selatan: Makanan MBG tak Memenuhi Syarat
Ketua Satuan Tugas (Satgas) Penyelenggaraan Program MBG Kabupaten Aceh Selatan, Diva Samudra Putra, saat memberikan penjelasan kepada Orbitdigital Selasa 17/3/2026. Kabiro Orbitdigital Asel YUNARDI.M.IS.

ACEH SELATAN | Hasil uji sampel terhadap dugaan Kejadian Luar Biasa (KLB) pangan di Kabupaten Aceh Selatan menunjukkan adanya makanan yang tidak memenuhi standar keamanan, ungkap Ketua Satuan Tugas (Satgas) Penyelenggaraan Program MBG Kabupaten Aceh Selatan, Diva Samudra Putra kepada Orbitdigital Selasa 17/3/2026.

Temuan hasil uji KLB ini berkaitan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang didistribusikan di wilayah Kecamatan Pasie Raja Aceh Selatan.

Ketua Satuan Tugas (Satgas) Penyelenggaraan Program MBG Kabupaten Aceh Selatan, Diva Samudra Putra, mengatakan hasil pengujian laboratorium oleh Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Banda Aceh menemukan indikasi cemaran mikroba pada sampel makanan.

“Uji sampel terhadap lima jenis makanan dari SPPG Padang Asahan menunjukkan adanya kandungan bakteri seperti Bacillus cereus, Staphylococcus aureus, dan Salmonella yang menyebabkan makanan tidak memenuhi syarat,” ucap Diva.

Kasus ini bermula dari laporan Puskesmas Ujung Padang Rasian pada Jumat (27/2/2026) dini hari. Sebanyak 18 orang dilaporkan mengalami gejala mual, muntah, dan diare setelah mengonsumsi makanan, dan didiagnosis mengalami gastroenteritis akut.

Menindaklanjuti laporan tersebut, Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Selatan langsung melakukan investigasi lapangan pada hari yang sama.

Tim melakukan peninjauan ke dua lokasi, yakni puskesmas untuk pengumpulan data serta dapur SPPG yang mendistribusikan sekitar 3.000 porsi makanan di Kecamatan Pasie Raja.

Dari hasil penyelidikan epidemiologi, diketahui bahwa makanan yang dikonsumsi para korban berasal dari SPPG Padang Asahan yang didistribusikan ke sejumlah sekolah pada Kamis (26/2/2026).

Selanjutnya, sampel makanan dan minuman dikirim ke laboratorium BBPOM di Banda Aceh untuk dilakukan pengujian lebih lanjut. Hasilnya menguatkan dugaan adanya kontaminasi mikroba pada makanan yang dikonsumsi.

Diva menegaskan, hasil uji ini akan menjadi dasar bagi instansi terkait dalam mengambil langkah lanjutan, termasuk evaluasi menyeluruh terhadap proses pengolahan dan distribusi makanan dalam program MBG.

“Ini menjadi bahan evaluasi penting agar ke depan pelaksanaan program dapat lebih memperhatikan aspek higienitas dan keamanan pangan,” paparnya.

Pemerintah daerah diharapkan segera mengambil langkah preventif guna mencegah kejadian serupa terulang, sekaligus memastikan keamanan pangan dalam pelaksanaan program MBG di masa mendatang, pungkasnya. Yun