H Wiyono Hibahkan Tanah, Harta dan Tenaga untuk Pendidikan, BPN Pastikan Aset Pesantren


MADINA | Di saat banyak orang berlomba mengumpulkan harta dan aset pribadi, H. Wiyono, S.Pd memilih jalan pengabdian yang berbeda. Secara bertahap, ia menghibahkan tanah, tenaga, pikiran, serta sebagian hartanya untuk kepentingan agama, pendidikan, dan kemaslahatan umat.

Komitmen tersebut kembali terlihat saat H. Wiyono turun langsung bersama tim Badan Pertanahan Nasional (BPN) dan Tata Ruang Kabupaten Mandailing Natal untuk memastikan titik-titik aset tanah yang telah dihibahkan bagi pengembangan pendidikan Islam.

Kegiatan yang berlangsung di Desa Patiluban Mudik, Kecamatan Natal, Kabupaten Mandailing Natal itu turut dihadiri Kepala Desa Patiluban Mudik, Irwansyah, tokoh masyarakat Sinunukan V, serta didampingi Penasehat Hukum dari Kantor Hukum Pondok Peranginan AFNAN, SH & Rekan.

Tanah yang ditinjau memiliki luas sekitar empat hektare dan direncanakan menjadi kawasan pengembangan lembaga pendidikan di bawah naungan Yayasan AT-TAQWA Sinunukan V.

Bagi sebagian orang, melepaskan aset bernilai ekonomi bukanlah perkara mudah. Namun bagi H. Wiyono, langkah tersebut merupakan bagian dari ibadah dan pengabdian kepada Allah SWT.

Sejak awal berdirinya pesantren yang kini berkembang menjadi Yayasan AT-TAQWA Sinunukan V, H. Wiyono diketahui telah memberikan dukungan dalam berbagai bentuk.

Mulai dari hibah tanah untuk pertapakan pesantren, dukungan pembiayaan berbagai kegiatan pendidikan dan dakwah, hingga mengajak masyarakat untuk turut berinfak demi kemajuan pendidikan Islam.

Berkat dukungan berbagai pihak, kompleks pendidikan tersebut kini telah berkembang dengan tersedianya ruang belajar, ruang Tahfiz Al-Qur’an, fasilitas pendidikan dasar hingga menengah, aula, asrama putra dan putri, sarana sanitasi, rumah pembimbing, serta masjid.

Tidak hanya untuk pendidikan, H. Wiyono juga menghibahkan lahan untuk pembangunan musholla dan menyediakan tanah yang dipersiapkan sebagai wakaf pemakaman umum bagi masyarakat.

Kepala Desa Patiluban Mudik, Irwansyah, membenarkan adanya proses penegasan titik aset yang dihibahkan tersebut.

“Pak H. Wiyono memang telah menghibahkan tanah untuk kepentingan pendidikan agama Islam, pertapakan musholla, serta lahan pemakaman atau tanah wakaf. Dokumen terkait juga telah disampaikan kepada pemerintah desa,” ujarnya di sela kegiatan pengukuran menggunakan GPS bersama tim BPN.

Ketika ditanya mengenai jumlah aset yang telah dihibahkan, H. Wiyono mengaku tidak lagi menghitungnya.

“Saya lupa karena sudah beberapa titik yang saya hibahkan,” ujarnya.

Ia kemudian menegaskan bahwa seluruh pemberian tersebut dilakukan dengan penuh keikhlasan.

“Saya ikhlas mengharap ridha Allah. Jadi saya tidak pernah menghitung lagi apa yang sudah saya ikhlaskan,” katanya.

Infak, Hibah dan Wakaf sebagai Amanah

Dalam perspektif hukum Islam, pemberian harta untuk kepentingan agama, pendidikan, dan kemaslahatan umat dikenal melalui beberapa bentuk, yaitu infak, hibah, dan wakaf.

Infak merupakan pengeluaran harta secara sukarela di jalan yang dibenarkan syariat. Hibah adalah pemberian seseorang kepada pihak lain ketika masih hidup tanpa mengharapkan imbalan.

Sementara wakaf merupakan penahanan pokok harta agar manfaatnya dapat digunakan secara berkelanjutan bagi kepentingan umat. Nilai utama dari ketiga bentuk amal tersebut bukan terletak pada besar kecilnya nilai harta yang diberikan, melainkan pada keikhlasan, manfaat yang dihasilkan, dan niat ibadah kepada Allah SWT. Karena itu, para ulama menekankan pentingnya pengelolaan yang amanah, transparan, dan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.

Hasan, salah seorang warga Sinunukan V yang menyaksikan perkembangan pesantren tersebut, menilai kontribusi H. Wiyono sangat besar dalam mendukung pendidikan dan dakwah Islam.

“Banyak yang sudah beliau hibahkan untuk kepentingan umat, pendidikan dan agama Islam, khususnya untuk pesantren. Dari awal sampai berkembang seperti sekarang beliau terus memberi dukungan,” ujarnya.

Hasan berharap seluruh amal yang telah dilakukan mendapat balasan terbaik dari Allah SWT.

“Semoga Pak H. Wiyono diberikan kesehatan, umur panjang, keberkahan rezeki, dan kebaikan untuk keluarganya. Sosok seperti beliau sudah mulai jarang, yang lebih mendahulukan kepentingan pendidikan dan agama dibanding kepentingan pribadi,” tuturnya.

Di tengah berbagai tantangan pengelolaan lembaga pendidikan berbasis masyarakat, langkah filantropi yang dilakukan H. Wiyono menjadi pengingat bahwa kemajuan pendidikan dan dakwah sering kali lahir dari ketulusan serta keikhlasan orang-orang yang memilih untuk memberi demi kemaslahatan umat. (OD-34)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *