MEDAN | Universitas Darma Agung (UDA) menggelar Seminar Nasional bertajuk Beyond Cash: Membangun Ekosistem Pariwisata Berbasis Keuangan Digital di Hermina Center Medan, Rabu (17/6/2026).
Kegiatan ini menjadi forum strategis yang mempertemukan akademisi, pemerintah daerah, pelaku industri pariwisata, sektor perbankan dalam merumuskan pengembangan pariwisata berbasis teknologi dan ekonomi digital.
Sebab, transformasi digital kini menjadi salah satu faktor kunci menentukan daya saing destinasi wisata di tengah persaingan global yang makin kompetitif.
Tidak hanya promosi dan pemasaran, digitalisasi juga mencakup sistem transaksi, pengelolaan data wisatawan, pengembangan ekonomi kreatif, hingga penguatan tata kelola destinasi yang berkelanjutan.
Seminar nasional tidak hanya membahas perkembangan sistem pembayaran digital sebagai instrumen transaksi, tetapi integrasi teknologi dalam membangun ekosistem pariwisata yang inklusif, efisien, dan memberikan pengalaman yang lebih baik bagi wisatawan.
Dalam perspektif akademik, digitalisasi sektor pariwisata merupakan bagian dari transformasi ekonomi yang mendorong peningkatan produktivitas daerah.
Berbagai studi menunjukkan kemudahan akses pembayaran digital, integrasi layanan berbasis aplikasi, serta pemanfaatan data digital untuk meningkatkan tingkat kunjungan wisatawan, memperpanjang lama tinggal, dan perputaran ekonomi masyarakat lokal.
Melalui seminar ini, Universitas Darma Agung berharap lahir berbagai gagasan inovatif sekaligus kolaborasi konkret yang dapat mendukung percepatan transformasi digital sektor pariwisata kawasan Danau Toba.
Upaya tersebut dinilai penting memperkuat posisi Sumatera Utara khususnya Kabupaten Toba sebagai destinasi wisata unggulan dunia di tengah pesatnya perkembangan ekonomi digital global.
Momentum seminar semakin strategis dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Pemerintah Kabupaten Toba dan Universitas Darma Agung.
Kerja sama ini menjadi langkah nyata dalam memperkuat sinergi antara dunia akademik dan pemerintah daerah, khususnya pengembangan sumber daya manusia, penelitian terapan, kajian kebijakan publik, serta penguatan sektor pariwisata berbasis teknologi.
Kolaborasi mencerminkan semakin pentingnya peran perguruan tinggi sebagai pusat riset dan penghasil rekomendasi kebijakan berbasis data (evidence-based policy).
Kehadiran akademisi diharapkan mampu memberikan kontribusi ilmiah untuk menjawab berbagai tantangan pembangunan daerah, mulai dari pengelolaan destinasi wisata, pemberdayaan masyarakat, hingga daya saing ekonomi lokal.
Ketua DPD Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sumatera Utara, Melky Waas, sebagai narasumber menegaskan bahwa digitalisasi sistem pembayaran telah menjadi kebutuhan utama industri pariwisata modern.
Menurutnya, wisatawan saat ini menuntut kemudahan, kecepatan, dan keamanan bertransaksi. Maka, pelaku usaha pariwisata perlu beradaptasi perkembangan teknologi agar mampu memberikan layanan sesuai ekspektasi pasar global.
”Transformasi digital bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan untuk menjaga daya saing industri pariwisata,” ujarnya mengawali sambutan sekaligus uraian visi – misi PHRI.
Sementara itu, Bupati Toba Effendi Sintong Panangian Napitupulu melalui keynote speaker Audi Murphy O. Sitorus menekankan pentingnya membangun kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat.
Menurutnya, pengembangan kawasan wisata tidak dapat dilakukan secara parsial. Dibutuhkan pendekatan kolaboratif untuk mengintegrasikan aspek teknologi, sumber daya manusia, investasi, pelestarian budaya, serta keberlanjutan lingkungan.
”Butuh komitmen bersama para kepala daerah se kawasan Danau Toba. Kini ada keramba jaring bebas beroperasi padahal sebelumnya telah sepakat menertibkan semua keramba jaring apung, baik milik masyarakat maupun perusahaan, ” kata Murphy.
Audi Murphy menjelaskan Kabupaten Toba berada di kawasan strategis membutuhkan dukungan riset dan inovasi dalam memperkuat daya saing destinasi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.
Dari sektor perbankan, Relationship Manager Branch Medan Roy Choky Andika Manalu memaparkan berbagai peluang pemanfaatan layanan keuangan digital yang dapat mendukung aktivitas wisata secara lebih efektif dan efisien.
Digitalisasi transaksi dinilai mampu memperluas akses layanan keuangan sekaligus meningkatkan kepercayaan wisatawan dalam melakukan berbagai aktivitas ekonomi selama berkunjung ke suatu daerah.
Rektor Universitas Darma Agung, Prof. Dr. Suwardi Lubis, menegaskan perguruan tinggi memiliki tanggung jawab strategis menyiapkan sumber daya manusia terhadap perubahan teknologi dan kebutuhan industri masa depan.
Menurutnya, kampus tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan, tetapi laboratorium sosial yang melahirkan inovasi, riset terapan, serta solusi persoalan pembangunan daerah.
”Perguruan tinggi harus hadir sebagai mitra strategis pemerintah dan dunia usaha dalam menghasilkan inovasi yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” katanya.
Kegiatan ini turut mendapat dukungan Ketua Yayasan Perguruan Darma Agung Hana Nelsri Kaban dan Direktur Akademi Pariwisata dan Perhotelan Darma Agung Ivan Benedict Tambunan, Amd.Par., SE., MM.
Ivan Benedict Tambunan mengatakan partisipasi pelaku industri internasional menunjukkan transformasi digital tidak hanya mempercepat transaksi ekonomi, tetapi instrumen konektivitas, pasar wisata, serta posisi Danau Toba sebagai destinasi prioritas di tingkat regional maupun global.
Menariknya, seminar juga dihadiri pengusaha travel asal Malaysia, Amirul Syafiq dari MTD Rahmat Enterprise. Kehadirannya menjadi sinyal positif bagi penguatan jejaring kerja sama pariwisata lintas negara dan peluang peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara ke Danau Toba. (OM-09)







