TANAH KARO- Tidak seperti biasanya, yang selalu disesaki pengunjung warga pedesaan, Perayaan Dirgahayu Kemerdekaan RI di Kabanjahe kali ini lenggang dan sepi diiringi semburan debu Sinabung. Pemandangan kerumunan warga disepanjang jalan yang dilalui peserta pawai, drum band dan convoy carnaval terlebih didepan rumah Dinas Bupati Karo tidak ada lagi dipandang mata.
Biasanya seperti tahun-tahun sebelumnya setiap perayaan HUT Kemerdekaan RI, Kabanjahe selalu dipadati pengunjung yang datang dari berbagai desa untuk menyaksikan rangkaian kegiatan seperti pawai, drum band dan carnaval kenderaan hias. Puncaknya didepan rumah Dinas Bupati Karo tempat didirikannya tribun kehormatan untuk para pejbat, lautan manusia berdesakan hingga ke badan jalan menyaksikan berbagai atraksi hiburan memeriahkan HUT Kemerdekaan RI.
Begitu juga jejeran pedagang makanan (bakso), minuman, buah-buahan dan tenda-tenda pedagang monza (pakaian bekas) di sepanjang jalan inti kota Kabanjahe, semuanya tidak terlihat lagi, hilang karena kali ini perayaan itu dilaksanakan secara sederhana dan hikmat dan mempedomani protokol covid-19.
Jeritan tangisan anak kecil karena terhimpit desakan kerumunan orang banyak dan pengumuman anak hilang karena terpisah dari pegangan tangan ibunya serta suara nyaring penjaja makanan tidak terdengar lagi. Semuanya hilang ditelan Covid-19.

Seperti yang diceriterakan salah seorang warga Kabanjahe Corah br Sinulingga, biasanya ia dan tetangganya setiap 17 Agustus an, mulai pukul 10.WIB sudah mengambil tempat di jalan Veteran depan rumah dinas bupati, untuk menonton carnaval dan drum band. Sesudah menonton ia pergi ke kota berbelanja monza (pakaian bekas). Disela-sela belanja itu Corah juga mengaku sembari belanja loak, ia makan bakso dan makanan ringan lain untuk mengusir lapar.
“Tapi tahun ini katanya pawai drum band tidak ada lagi, pedagang monza pun tidak ada karena hari Kemerdekaan RI dilaksanakan sederhana dan protokol kesehatan. Tidak ada lagi hiburan 17 an, sepi lah. Belum lagi serangan abu Sinabung yang tak henti-hentinya, makin lengkap lah sudah penderitaan itu,” ungkapnya.
Sementara salah seorang pedagang (Monza) pakaian bekas Unjuk br Ginting mengatakan, sudah susahlah, carik bal saja sekarang sudah payah, ditambah lagi Covid-19 membatasi kelancaran usahanya, datang lagi erupsi Sinabung yang sudah berlangsung berhari-hari. “Pasrah lah, ketiga tantangan ini tak terelakan. Harus dihadapi dengan doa, semoga semuanya cepat berakhir,” ujarnya.
Reporter : Daniel Manik






