Aceh  

Aceh Selatan Heboh, Pembuatan Website Desa Digital Terindikasi Mark Up

Proposal pembuatan website desa digital dengan angka penawaran mencapai Rp.6 juta per desa di duga hal ini terjadi Mar Up

ACEH SELATAN | Kalangan tokoh masyarakat di sejumlah gampong dalam Kabupaten Aceh Selatan dihebohkan dengan beredarnya proposal pembuatan website desa digital dengan angka penawaran mencapai Rp6 juta per desa.

Jumlah yang ditawarkan oleh vendor dari PT Media Krusial Mandiri itu dinilai cukup fantastis. Pasalnya, tamplate website yang disediakan diduga bukan melalui rancang bangun tapi disebut-sebut dibeli online sebesar Rp250 ribu.

Temuan kasus ini diungkap oleh Koordinator Forum Peduli Aceh Selatan (For-PAS), T. Sukandi kepada wartawan di Tapaktuan, Sabtu (27/9/2025), yang menurut banyak kalangan di pedesaan terindikasi diduga terjadi Mar Up.

“Jika ini benar, maka sudah terjadi mark up besar – besaran dalam proyek ini yakni mencapai 2400 persen,” ungkap Sukandi.

Berdasarkan hasil penelusuran dan investigasinya, proposal penawaran pembuatan website desa tersebut telah didistribusikan ke gampong-gampong di Aceh Selatan.

Desas – desus berkembang, untuk memuluskan perebutan proyek tersebut, pihak vendor penyedia disebut – sebut menggaet salah seorang kolega dekatnya Bupati Aceh Selatan H. Mirwan.

“Disinyalir ada sinyal tekanan yang dikirim atau dititipkan ke pejabat Dinas DPMG oleh oknum tertentu yang disebut-sebut orang lingkaran pendopo dengan membawa-bawa nama bupati,” beber Sukandi.

Sukandi mengatakan, dalam proposal penawaran pembuatan website desa digital diajukan oleh PT Media Krusial Mandiri kepada Keuchik se Kabupaten Aceh Selatan sepintas kilas proposal ini sifatnya normatif dan biasa-biasa saja seakan-akan ini adalah inisiatif dari pihak perusahaan yang bertujuan untuk meningkatkan transparansi pengelolaan pemerintahan desa untuk memudahkan akses informasi terkini pada masyarakat di masing-masing desa di daerah itu.

“Tentu tujuan dan manfaat program ini sangatlah positif, edukatif dan konstruktif,” ucap Sukandi.

Hanya saja, sambung Sukandi, menjadi pertanyaan dan perbincangan bagi para tokoh masyarakat di gampong – gampong kenapa harga website itu melambung tinggi. Soalnya, bagi masyarakat yang suka berselancar di internet harga tamplate website yang dibeli online seperti itu sangatlah murah.

Tidak Tahu

Dari informasi yang berkembang surat proposal yang di tujukan kepada para keuchik di setiap gampong itu sifatnya adalah prakondisi atau pengkondisian untuk mendapatkan legitimasi atau persetujuan dari segenap keuchik dengan tujuan bila ada sengketa hukum tentang selisih antara standar harga pasar dengan harga penawaran tender yang tidak masuk di akal sehat dan pikiran waras.

Maka pihak terkait punya alasan hukum bahwa harga yang ditawarkan pada masing-masing keuchik tidak dipaksakan dan harga ini telah disetujui secara bersama-sama antara rekanan (vendor) dan para keuchik se – Aceh Selatan.

“Tentu dari keadaan ini diperlukan klarifikasi dan konfirmasi dari semua pihak yang terlibat, karena bila dugaan ini adalah benar maka Aceh Selatan bukan maju dan produktif seperti yang diharapkan tapi keadaan ini akan menjadikan Aceh Selatan yang terlilit utang tertinggi di Provinsi Aceh ini akan semakin terpuruk,” pungkas Sukandi.

Ketua Asosiasi Pemerintahan Desa Seluruh Indonesia (Apdesi) Aceh Selatan, Syukran S.Pdi saat dihubungi media Orbitdigital lewat jaringan nomor Washapp Minggu (28/9/2025) tentang persoalan pembuatan website dia menjawab, tidak tahu.

“Sampai hari ini saya pun tidak ngerti juga persoalan ini,” ucapnya seraya menambahkan karena tidak ada laporan sama sekali kepadanya, ucapnya lagi.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Gampong (DPMG) Aceh Selatan, Hj. Agustinur S.H, yang dihubungi lewat jaringan udara mengakui bahwa Ini memang program pemerintah pusat, pungkasnya.

Yunardi