Produksi Jangek Pak Edi Sudah Puluhan Tahun Tembus Manca Negara

Peoduksi pembuatan kerupuk jangek Pak Edi yang beralamat di jalan Panglima Denai Medan. Selasa (12/5/2026) Orbitdigital/Iwan gunadi

MEDAN | Kerupuk Jangek merupakan cemilan khas Sumateraa Barat yang  terbuat dari Kulit Sapi. Salah satu produsen pembuatan Kerupuk jangek  Pak Edi yang terdapat di Jalan Denai No. 80 (Depan Choco Bakery) Tegal Sari Mandala III Kec. Medan Denai.

Produksi Kerupuk jangek pak Edi yang sudah turun temurun menjadi satu  usaha yang menjanjikan. Usaha rumahan ini sudah berjalan selama puluhan tahun.

Nofri Tanjung pemilik produksi kerupuk  jangek pak Edi menceritakan cara pengolahan yang memakan waktu  hampir seminggu dan proses memasak mencapai 4 sampai 6 jam tersebut.

“Proses pengolahannya cukup panjang dari bahan kulit yang masih basah kurang lebih mencapai seminggu ya.., dimulai dari pembuangan bulu sapi, perebusan, pemotongan berbentuk dadu lalu penjemuran. Setelah penjemuran kulit sapi dicuci kembali kemudian diberi garam dan bumbu perasa.
Dari tahap penjemuran ke penggorengan sekitar 6 jam lagi, setelah enam jam baru digoreng menjadi kerupuk jangek” terang Novri Selasa (12/5/2026).

Untu perharinya bisa menghabiskan bahan baku kulit sapi sebanyak 100 kg sampai 150 kg. Sedangkan bahan baku didapatkan dari Rumah Potong.

Usaha produksi kerupuk jangek pak Edi telah berdiri selama 35 tahun yang di rintis orangtuanya. Hingga kini di lanjutkan anaknya sebagai penerus usaha tersebut.

“Kalau usaha ini sudah ada sejak  Bapak saya, kurang lebih 35 tahun yang lalu. Namun dahulu belum ada nama kerupuk jangek pak edi, sesudah beliau meninggal dan saya generasi kedua membuat brand dengan nama “Kerupuk jangek Pak Edi” jelasnya

Dalam produksi kerupuk jangek, Nofri menyampaikan kadang terkendala di minyak makan untuk penggorengan dan pelastik sebagi pembungkus

“Untuk bahan baku cukup banyak di wilayah Sumatera Utara ya…kendalanya nya sih di Minyak karena harga semakin tinggi kisaran Rp. 15.000 sekarang sudah Rp. 20.000, – kg nya. Sedangkan pelastik mengalami kenaikan dua kali lipat dari Rp.33.000 per kg kini menjadi Rp.55.000 kg” ungkapnya

Sementara kulit sapi dari pemotongan hewan kurban baik dari perorangan maupun masjid dijelaskan Nofri tidak bisa diolah menjadi jangek karena tipis. Namun dialihkan menjadi kikil atupun kulit sepatu.

Omset perhari penjualan kerupuk sangat menjanjikan dan untuk distribusi penjualan jangek pak edi fokusnya  hanya sekitaran wilayah kota Medan. Tidak hanya kota Medan saja, pengiriman kerupuk hingga keluar daerah seperti Aceh, Pekan Baru, Padang. Sampai ada bahan baku setengah jadi  dikirim ke Negara tetangga Malaysia.

Ia berharap kedepannya, “Untuk harga bahan pendukung pembuatan kerupuk jangek tetap stabil. Dikarenakan akan membingungkan untuk harga jual karena  jika harga bahan baku naik otomatis tidak mungkin juga menaikkan harga  jual. Kita harus memikirkan kemampuan pasar juga,” pungkas nya. (OM /011)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *