Aksi Kriminal Meningkat, Begini Pandangan Pengamat

Pemerhati masalah sosial dan pendidikan yang juga penceramah agama, Al Ustad Khairul Fahmi SPdI MPdI. (Foto/Ist).

Mengelola Nafsu

Namun demikian masalah pendidikan agama tidak menjamin seorang anak tersebut 100 persen bisa menjadi orang baik sampai dia tua nantinya. Faktor lingkungan juga menjadi bagian penting.

Apalagi ruang lingkup pergaulan sehari hari yang padat dan tak terbatas. Kita jangan lupa kalau setiap manusia itu punya nafsu, sehingga jika tidak bisa memgelola nafsu tersebut, di situlah letak dari kehamcuran moral itu.

Seorang yang memiliki pendidikan tinggi, pandai mengaji bahkan lulusan sekolah agama dan memiliki jabatan lumayan, tetapi bisa juga dijerat oleh hukum karena kesalahan dalam mengelola jabatannya tersebut. Itu juga aksi kejahatan yang tak jauh beda dengan maling ayam atau pencuri pagar masjid.

Semakin maraknya aksi kejahatan yang terjadi saat ini, selain faktor agama yang menipis akibat gempuran globalisasi sehingga terjadi perubahan sosial yang menyebabkan pengelolaan  nafsu yang tak terkendali sehingga terjadi benturam sana sini.

Banyak kalangan menyebut bahwa kondisi ekonomi salah satu faktor terbesar terjadinya tindak kriminal yang kerap terjadi, tidak saja di Medan tetapi di hampir semua kota besar di Indonesia. Tetapi kita juga jangan lupa para koruptor yang ditangkap KPK rata rata ekonominya mapan.

Menurut Khairul ‘Al Qalamy’ Fahmi, jika penanaman kaidah agama dilakukan sejak kecil dan dilakukan pemeliharaan secara kontiniu, mudah mudahan kita akan selamat. Karena ibarat sungai harus ada benteng supaya air tidak tumpah jika banjir dan benteng itu harus dijaga dan pelihara dengan ditanam penghijauan agar tidak erosi.