Doli Cs Diminta Hentikan Fait Accompli Ketua DPC di Sumut dengan Ketum Golkar

oleh -205 views
Sejumlah pengurus Golkar Sumut saat menunjukkan diskresi Ketum Golkar Airlangga Hartarto kepada Musa Rajekshah pada Musda X Partai Golkar Sumut. (orbitdigitaldaily.com/Diva Suwanda)

MEDAN – Mantan Sekretaris DPD Partai Golkar Sumatera Utara (Sumut), Riza Fakhrumi Tahir, meminta Plt. Ketua DPD Partai Golkar Sumut, Ahmad Doli Kurnia Tandjung, dan Ketua Harian, Ahmad Yasyir Ridho, menghentikan fait accompli (upaya memaksakan kehendak) terhadap sejumlah ketua Partai Golkar kabupaten dan kota se Sumut dengan Ketua Umum DPP Partai Golkar, Airlangga Hartarto.

Riza melihat, gerakan Doli mendukung Ahmad Yasir Ridho menjadi Ketua DPD Partai Golkar Sumut semakin agaknya kurang beretika.

“Tidak etisnya, Doli membiarkan bahkan ikut mendukung Ridho memobilisasi para ketua kabupaten dan kota melalui pernyataan-pernyataan dukungan,” ungkap Riza kepada orbitdigitaldaily.com, Selasa (14/7/2020).

Tokoh senior Golkar Sumut ini menerangkan, ada mobilisasi para ketua kabupaten dan kota hingga mereka dipertemukan dengan Ketua Umum DPP beberapa hari lalu.

Hal ini, kata Riza, merupakan cara Ridho melakukan fait accompli para ketua kabupaten/kota dengan Ketua Umum DPP.

Memang, menurut Riza, Doli tidak kelihatan ketika delegasi Sumut bertemu Ketua Umum. “Namun saya yakin Doli tahu dan merestuinya,”tuding Riza.

Sebagai Plt Ketua, apalagi sebagai Wakil Ketua Umum DPP, mestinya Doli bersikap netral dan sudah lama menghentikan model gerakan seperti itu menurut Riza.

Dalam menghadapi Musda X, menurut Riza, mestinya Doli menggunakan perspektif Airlangga Hartarto sebagai Ketum. “Bukan malah ikut pula membenturkan para ketua kabupaten/kota dengan Ketum,” katanya.

Menurutnya, Diskresi Ketum untuk Musa Rajekshah atau yang akrab disapa Ijeck sebagai calon Ketua Golkar Sumut sebenarnya sudah sinyal yang jelas.

Pria yang menjabat sebagai ketua Kesatuan Organisasi Serbaguna Gotong Royong (Kosgoro) 1957 Sumut, yang merupakan organisasi pendiri Partai Golkar mengungkapkan mengetahui persis watak Doli.

Riza menerangkan, sejak dia menjabat sekretaris, pola seperti ini sudah dilakukan Doli dan Ridho.

Berbahaya Bagi Masa Depan Airlangga

“Keduanya sangat faham para ketua kabupaten/kota punya keinginan jadi pimpinan DPRD, calon kepala daerah bahkan ingin menjabat ketua di periode berikutnya,” tuturnya.

“Sehingga Doli dan Ridho kemudian menjadikan keinginan itu sebagai titik lemah, dengan memaksa para ketua kabupaten dan kota mendukung Ridho sebagai Ketua Golkar Sumut,” terang Riza lagi.

Begitupun ia tidak menyalahkan hal itu. Ia menilai, deklarasi dukungan 27 pimpinan kabupaten dan kota Golkar se-Sumut kemarin cenderung karena terpaksa.

“Saya juga tidak menyalahkan para ketua kabupaten/kota. Mereka kawan – kawan, yang saya sangat faham dengan tipikal mereka. Mereka itu terpaksa mendukung Ridho karena khawatir kehilangan momentum dan peluang. Padahal, kalau Ijeck menjabat Ketua Golkar Sumut, mereka juga tidak bakal kehilangan momentum dan peluang,” ujarnya.

Menurut Riza, memaksa para ketua kabupaten/kota mendukung Ridho, silahkan saja.

“Namun, jangan fait accompli mereka dengan Ketua Umum. Itu sama saja memaksa Ketua Umum mengikuti kehendak Doli dan Ridho,” imbau Riza.

Fait accompli, itu sama saja dengan pemaksaan kehendak, membenturkan para ketua kabupaten/kota dengan ketua umum. Doli dan Ridho jangan memaksakan kehendaknya kepada Ketua Umum DPP. Itu tidak baik. Hentikan segera,” kata Riza.

Riza berharap Doli menyamakan perspektif dan menyatukan frekwensi dengan Ketua Umum DPP.

“Sebagai Wakil Ketua Umum, mestinya Doli berdiri di samping Airlangga mengamankan diskresi untuk Ijeck. Tapi, langkah Doli memang aneh. Dia justru memaksakan kehendaknya menjadikan Ridho sebagai Ketua Golkar Sumut. Sikap Doli seperti ini bukan Cuma tidak baik, tapi sangat berbahaya bagi masa depan politik Airlangga,” kata Riza. (Rel/Diva Suwanda)