LANGKAT | Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Sumatera Utara terkhusus di Kabupaten Langkat mengalami penurunan setelah sebelumnya sempat menembus di angka Rp2.800 per kilogram. Petani daerah mulai resah karena harga TBS turun tajam.
Penurunan harga diduga setelah Pemerintah mengumumkan pembentukan PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI), Badan Usah Milik Negara yang dirancang menjadi eksportir tunggal komoditas sumber daya alam (SDA)
Dengan kondisi tersebut banyak dikeluhkan para petani sawit dikarenakan berdampak langsung terhadap menurunya pendapatan mereka.
“Banyak warga yang sudah mengadukan hal ini kepada DPRD Langkat melalui Fraksi PDIP. Untuk itu kami Fraksi PDIP meminta Pemerintah Daerah Kabupaten Langkat yang membidangi hal ini perlu mengetahui secara jelas faktor penyebabkan harga TBS kembali anjlok,” ungkap Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Langkat, Drs Pimanta Ginting, kepada awak media, Senin (25/6/2026).
Menurut Pimanta, saat ini masyarakat petani sawit mulai resah. Sebab uang hasil sawit yang biasanya dipakai membeli pupuk kebun, membayar cicilan kendaraan, masih menjadi dilema msyarakat. Apalagi ini akan memasuki penerimaan siswa anak sekolah.
“Hari ini kita belum mengatahui harga TBS. Lima hari sebelumnya harga TBS Rp 2.800 per kilogramnya, lalu hari Kamis Rp 2.500, di hari Sabtu harga turun menjadi Rp 2.100 dan kemarin harga TBS di Secanggang kembali anjlok menjadi Rp 1500. Maka kita minta pemerintah daerah mengambil sikap,” tegas Pimanta kembali.
Oleh karena itu, sambung Pimanta, kami dari fraksi PDI Perjuangan meminta percepatan kepada pemerintah pusat tentunya kepada Pemerintah Kabupaten Langkat, bagaimana agar supaya cepat dikendalikan.
“Harga CPO dunia naik, kenapa harga sawit ini turun?. Apakah ada pelaku-pelaku yang “mencari kesempatan dalam kesempitan”?,” ungkapnya.
Menurutnya, dalam hal ini pemerintah harus cepat tanggap dan turun. Biasanya bila harga CPO naik, naik juga lah harga TSB nya.
“Jangan hanya tahu membuat kebijakan tetapi tidak siap mengantispasi kejadian seperti ini, bila perlu di bentuk tim Satgas,” kata Pimanta.
Dia menambahkan terkait hal ini masyarakat sekarang menjerit dan takut mengahadapi di bulan 6 dan 7 ini.
Soal anjloknya harga TBS, ia pun berencana mememanggil seluruh pihak PKS (Pabrik Kelapa Sawit) yang beroperasi di Kabupaten
Langkat.
Menurutnya, kondisi anjloknya harga TBS saat ini sangat memberatkan petani sawit di Langkat yang selama ini menggantungkan kebutuhan hidup dari hasil kebun.
“Kita merencanakan memanggil seluruh PKS dan Dinas terkait Pemerintah Kabupaten Langkat yang membidangi, untuk menggelar RDP terkait turunnya harga TBS yang saat ini banyak dikeluhkan masyarakat,” pungkas Pimanta. (OD-20)







