Bank Sumut
Aceh  

Jelang HUT RI ke-78, Pj Bupati Abdya Ziarah dan Tabur Bunga di Makam Teungku Peukan

Pj Bupati Abdya H Darmansah S.Pd., M.M, didampingi Ketua TP-PKK Ny Zulhijjah melakukan ziarah dan tabur bunga di makam pahlawan Teungku Peukan di Kompleks Masjid Jamik Baitul Adhim, Kecamatan Blangpidie. Rabu (16/8/2023). Foto/Ist

ABDYA | Penjabat (Pj) Bupati Aceh Barat Daya (Abdya), H Darmansah S.Pd., M.M, didampingi Ketua TP-PKK Ny Zulhijjah melakukan ziarah dan tabur bunga di makam pahlawan Teungku Peukan dalam rangka Memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekan Republik Indonesia ke 78, yang berlokasi di Kompleks Masjid Jamik Baitul Adhim, Kecamatan Blangpidie. Rabu (16/8/2023)

Kegiatan ziarah dan tabur bunga di pusara pejuang asal Kecamatan Manggeng Raya itu diikuti, oleh Ketua DPRK Abdya Nurdianto, Kapolres Abdya AKBP Dhani Catra Nugraha, S.H., S.I.K., M.H, Kajari Heru Widjadmiko, S.H., M.H, Dandim 0110 Letkol Inf Roqich Hariadi, Sekda Abdya H.Salman Alfarisi, ST, Para Asisten dan unsur terkait lainnya.

Prosesi ziarah diawali dengan upacara yang dipimpin langsung oleh Pj Bupati H Darmansah, S.Pd.,M.M dalam menghormati para arwah pahlawan Teungku Peukan yang berlokasi di Kompleks Masjid Jamik Baitul Adhim, Kecamatan Blangpidie.

Kemudian, di lanjutkan dengan doa bersama, peletakan karangan bunga serta tabur bunga di makam pahlawan.

Tujuan melakukan ziarah kubur ke makam pahlawan tak lain untuk mendoakan para pahlawan yang dulunya gugur dalam membela Tanah Air. Dengan hal itu, berarti juga telah mengenang jasa para pahlawan yang telah berjasa kepada negara. Selain itu, juga bisa memupuk rasa nasionalisme dan cinta tanah air seperti yang dimiliki oleh para pahlawan.

Diketahui, sejarah singkat perjuangan Teungku Pekan melawan penjajah Belanda.
Teungku Peukan merupakan seorang ulama besar asal Aceh yang berjuang melawan penjajahan Belanda. Ia dikenal berkat kepemimpinannya dalam Peristiwa 11 September 1926, ketika rakyat Aceh menyerang Belanda di Blang Pidie.

Hingga meninggal dunia, Teungku Peukan selalu saja berurusan dengan perjuangan melawan penjajah Belanda.

Seterusnya, Teungku Peukan lahir di Sawang, Aceh Selatan, pada 1886. Ia adalah anak dari Teungku Padang Ginting, seorang ulama besar yang berasal dari Alue Paku, Aceh Selatan. Sementara itu, ibunya bernama Siti Zulekha.

Teungku Peukan lahir pada awal periode gejolak Belanda-Aceh. Sebagai anak dari seorang ulama, Teungku Peukan dididik dengan keilmuan agama Islam. Hingga dewasa, Teungku Peukan memiliki kecintaan terhadap agama Islam dan tanah kelahirannya. Bahkan, ketika Belanda mulai menginvasi wilayah Kesultanan Aceh, Teungku Peukan dengan tegas bersikap melawan penjajah.

Reporter : Nazli