Sementara gerakan Indonesia tertib difokuskan pada peningkatan perilaku tertib penggunaan ruang publik berlalu lintas dan budaya antri.
Juga dijelaskan tentang gerakan Indonesia mandiri yang difokuskan pada peningkatan perilaku yang mendukung tercapainya kemandirian bangsa dalam berbagai sektor kehidupan sedangkan gerakan Indonesia bersatu difokuskan kepada peningkatan perilaku saling menghargai bergotong royong memperkuat jatidiri dan karakter berdasarkan pancasila UUD 1945 Bhineka Tunggal Ika dan NKRI.
Diskusi berjalan santai dan serius ini banyak membahas pengembangan ekonomi terpadu bertujuan untuk mendorong terwujudnya Gerakan Nasional Revolusi Mental melalui aksi nyata Indonesia Mandiri di daerah.
Sementara DR. Iskandarsyah, SE, MM yang juga sebagai narasumber memaparkan tentang aksi nyata gerakan Indonesia Mandiri menumbuhkan perilaku toleran dan kerukunan inter dan antar warga dan antar umat beragama, meningkatkan budaya gotong royong, menumbuhkan rasa kepedulian sosial mendorong penguatan daya rekat sosial dan kebhinekaan dalam persatuan menciptakan ruang pablik yang ramah dan bebas dari penyebaran kebencian meningkatkan kerja sama dan kesetiakawanan sosial meningkatkan jiwa patriok, suka menolong dan cinta tanah air membuat kegiatan bersama dibidang ekonomi sosial budaya serta dapat mewujudkan nilai nilai budi pekerti toleransi dan kerukunan.
Hingga memaparkan tentang asal muasalnya timpan, timpan itu berasal dari Aceh, karena bungkusanya dari daun pisang, lantas tepungnya dari mana sehingga hal ini menjadi pertanyaan besar dari pada pemaparan dan penjelasan aksi nyata gerakan Indonesia Mandiri.
Dan ketiga nara sumber semuanya dapat memaparkan materinya kepada para undangan yang berhadir dan juga dapat menjawab semua jawaban dengan tuntas saat dibukanya sesi tanya jawab.
Acara berakhir dengan penyerahan buku pedoman Group Discussion (FGD) Gerakan Nasional Revolusi Mental kepada enam penanya dan juga foto bersama.
Reporter : Yunardi







