Padahal, lanjutnya, pengunjung yang datang ke RTH bukan saja berasal dari Aceh Selatan, melainkan ada juga yang dari luar daerah.
“Menumpuknya limbah rumah tangga di dalam parit diakibatkan lemahnya pengawasan pihak pengelola RTH Taman Pala Indah Tapaktuan,” cetusnya.
Selain itu, sambungnya, perlu diketahui bahwa RTH sebenarnya merupakan “paru-paru” kota atau wilayah yang dipenuhi tanaman hijau dapat menyerap kadar karbondioksida (CO2).
Menambah oksigen, menurunkan suhu dengan keteduhan dan kesejukan tanaman, menjadi area resapan air, serta meredam kebisingan.
“Tetapi RTH Taman Pala Indah Tapaktuan malah sebaliknya bising dengan suara musik di sejumlah caffee, baik di siang hari maupun di malam hari, ditambah lagi dengan jalur masuk dan jalur keluar yang sembarangan dilalui oleh para pengguna jalan,” terangnya.
“Demikian juga dengan parkir kendaraan baik roda dua maupun roda empat yang semrawut sehingga” kadang kadang sangat susah untuk dilalui para pengguna jalan baik jalur masuk maupun jalur keluar, dan juga Koordinator LIBAS meminta kepada Bupati Aceh Selatan untuk mengevaluasi kembali Kinerja pengendali yang membidangi RTH yang satu satunya ada Negara Indonesia ini,” pungkasnya.
Reporter: Yunardi







