Dalam pelaksanaannya, kegiatan tersebut diawali dengan menampilkan unjuk bakat dari anak-anak di Sasude sebagai bentuk apresiasi. Materi edukasi sendiri disampaikan melalui metode mendongeng (storytelling) agar lebih mudah dipahami anak-anak. Pemberian materi edukasi pun disambut dengan baik oleh anak-anak karena sifatnya yang interaktif dan menggunakan alat peraga. Selain itu, diadakan juga sesi kreatif di mana para peserta dapat melukis di media kotak pensil dan berkreasi sebebasnya.
Uci Anggreni Sitanggang yang merupakan mahasiswa USU, menjadi salah satu peserta eksternal di acara tersebut, mengakui bahwa sesi storytelling adalah aktivitas yang paling berkesan baginya.
“Aku paling suka tadi waktu sesi storytelling atau semacam dongeng gitu. Anak-anaknya kelihatan senang dengerin ceritanya, apalagi ada alat peraga, seperti burung dan kerbau. Jadi, semakin seru dan senang banget,” ungkapnya.
Tasya juga menambahkan harapannya agar acara ini dapat melekat di hati para peserta anak-anak maupun peserta eksternal mahasiswa, sehingga mereka dapat terus menerima dan menghargai diri sendiri.
“Harapannya, semoga acara ini tidak hanya untuk seru-seruan saja, tetapi juga melekat di hati anak-anak dan peserta lainnya yang hadir untuk terus menerima dan menghargai diri sendiri,” tutupnya.
(Penulis: Aura Qathrunnada Gultom dari Prodi Ilmu Komunikasi USU)







