ABDYA | Fasilitas Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) yang merupakan salah satu program Pemerintah Indonesia dengan dukungan Bank Dunia di duga banyak yang tidak berfungsi.
Di Kabupaten Aceh Barat Daya Provinsi Aceh contohnya, banyak fasilitas penyediaan air minum yang dibiayai oleh Bank Dunia tersebut menjadi aset mati dan terbengkalai. Padahal, Pamsimas tersebut bertujuan untuk meningkatkan jumlah fasilitas pada warga masyarakat yang kurang terlayani, termasuk masyarakat berpendapatan rendah di wilayah perdesaan dan peri-urban.
Oleh sebab kondisi demikian, banyak masyarakat miskin di gampong atau Perdesaan penerima manfaat air bersih yang bertujuan untuk meningkatkan akses layanan air minum dan sanitasi tersebut tidak lagi bahkan tidak pernah sama sekali menerima manfaatnya.
Meski program Pamsimas itu katanya melibatkan Kementerian/lembaga seperti Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendesa & PDTT), Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen PUPR), Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).
Namun kenyataannya kondisi Pamsimas di Abdya saat ini tidak berfungsi dan amburadul, Ironisnya banyak masyarakat yang kecewa karena terputus dan bahkan ada yang tak sempat sama sekali memanfaatkan air berih dari program yang menghabiskan biaya negara miliyaran rupiah itu.
Namun, apa hedak di ungkapkan, tetap tak ada solusi yang diharapkan, hingga masyarakat di sekitarnya meminta Pamsimas dialihkan saja ke Perusahaan Umum Daerah Air Minum PUDAM setempat.
“Kita minta Pamsimas itu dikelola saja oleh PUDAM, karena Pamsimas ini benar-benar tidak berfungsi seperti yang di harapkan. Takutnya nanti pasilitas seperti pipa dan lainnya jadi rusak dan tentunya itu membuat Negara dan kita semua rugi,” ucap Ahmad, salah seorang warga yang mengharapkan Pamsimas itu benar-benar beroperasi dengan baik.







