Agama  

Pengajian di Masjid Raya Miftahul Iman, Sifat Allah Itu tak Terhingga

Ustad DR Ahmad Darlis MPd dalam tausiah masalah Ketuhanan di Masjid Raya Miftahul Iman Medan Denai, pada pengajian rutin Minggu Subuh.

Medan | Dalam pengajian rutin usai Sholat Subuh berjamaah di Masjid Raya Miftahul Iman Jalan Panglima Denai Medan, pada Minggu (04/09/2022) membahas tentang ketuhanan dengan penceramah Al Ustad DR Ahmad Darlis MPd.

Dalam kupasan masalah ketuhanan Ustad Darlis mengajak jamaah untuk bisa berfikir secara jernih dan sesuai syariat. Pasalnya sering muncul ke permukaan di masyarakat, jika membahas masalah ketuhanan haruslah yang benar mampu mengendalikan emosi dan itu tidak semua orang bisa memahaminya

Kata ustad, anggapan seperti itu sebenarnya ungkapan yang kurang tepat, karena sebagai muslim kita harus tahu dan harus belajar masalah ketuhanan, namun mungkin masing-masing orang beda pendapat dan kemampuannya dalam nemerima sebuah ilmu dan mencerna siapa itu Tuhan.

Bahkan ada pendapat lebih ekstrim lagi yang menyebutkan ada orang menjadi gila gara-gara belajar sifat 20. Padahal sesungguhnya bukan akibat belajar sifat 20 itu orang tersebut menjadi gila, tetapi karena kurang ilmu dan tidak belajar secara benar menyebabkan dia menjadi gila.

“Dicarinya Tuhan, bahkan sampai dibalik daun pun diamati di mana itu Tuhan dan akhirnya dia menjadi gila,” sebut ustad.

Padahal menurut Ustad Darlis, sifat Tuhan itu tidak hanya 20, tetapi tidak terhingga dan tidak mungkin tertembus oleh akal pikiran manusia. Hanya saja menurut para ulama, bagian-bagian yang bisa diambil hikmah dan dijadikan pondasi agar umat islam benar bisa paham bahwa Allah itu Esa.

Harus Paham

Dalam beberapa kitab karangan banyak ulama disebutkan, belajar tentang Ketuhanan tidak bisa hanya menelaah bagian pinggirnya saja, tetapi harus berani mengkaji makna dari ungkapan seperti yang diungkap dalam Alquran, jadi benar benar di pahami makna dari kalam Allah terebut.

Menurut Ustad Darlis, itulah perlunya kita belajar bersama seperti ini, dalam majelis taklim sehingga apa yang menjadi bahasan tidak setengah-setengah yang bisa berakibat terjainya perbedaan pandangan di antara umat muslim.

“Yang namanya Wujud, Qidam, Baqo mungkin sudah kita pelajari sejak SD, kalau sekarang anak TK pun sudah selalu dijadikan nyanyian. Tetapi bagaimana kita memahaminya harus sering bermajelis taklim, sehingga bisa menjadi ilmu bermanfaat, walau dalam kontek yang sederhana,” sebut ustad yang didampingi dua Imam Besar Masjid Raya Miftahul Iman, M Ridwan Harahap MPdI dan Herwansyah SH.

Dalam diskusi yang dilakukan pada sesi akhir diungkab, bahwa sesungguhnya seseorang menjadi gila bukan karena akibat belajar sifat 20 masalah ketuhanan, tetapi karena mereka tidak belajar hakekat dari ilmu yang dibacanya terebut.

Seharusnya apa yang dipelajari dan disampaikan guru sebagai pembimbing, diambil maknanya dan dipahami untuk dijadikan pegangan untuk menambah kekhusukan kita dalam meningkatkan ibadah kepada Allah.

“Jangan kita cari Allah dimana berada, apalagi di balik daun. Tetapi syukuri apa yang telah diberikan dan selalu menganggungkannya bahwa kita ada karena dia,” sebut ustad.

Karyadi Bakat SE