Penurunan Stunting Jadi Prioritas BKKBN Sumut

Kepala Perwakilan BKKBN Sumut Mhd Irzal bersama sejumlah insan pers saat mengikuti kegiatan forum koordinasi jurnalis yang digelar Perwakilan BKKBN Sumut di Kito Garden Cafe Jl Gunung Krakatau Medan. Kamis (21/4/2022). Foto/Ist
Sejumlah insan pers saat menghadiri kegiatan forum koordinasi jurnalis yang digelar Perwakilan BKKBN Sumut di Kito Garden Cafe Jl Gunung Krakatau Medan. Kamis (21/4/2022). Foto/Ist

“Pertama yang kita lakukan adalah pendataan keluarga, karena kita punya data ada namanya keluarga beresiko stunting. Beda keluarga yang beresiko stunting dengan stunting, itu jelas sangat beda. Misalnya anak tersebut sanitasinya belum baik, gizinya juga belum baik jadi itu beresiko terkena stunting dan masih bisa dilakukan pendampingan supaya anak tersebut pada umur 2 tahun bisa tumbuh sehat,” jelasnya.

Sehingga kata Irzal Perwakilam BKKBN Sumut telah menyiapkan sebanyak 10.323 Tim Pendamping Keluarga (TPK) di Sumut atau setara dengan 30.969 orang penggerak pendamping keluarga yang akan disebar di seluruh Kabupaten/Kota di Sumut.

“Dengan keberadaan 10.323 TPK yang ada di Sumut tersebut diharapkan bisa mengatasi penurunan angka stunting di Sumut. Tim pendamping keluarga ini adalah bidan, kader KB, dan anggota PKK di desa yang telah dilatih. Mereka akan mendampingi keluarga-keluarga yang berisiko stunting di antaranya calon pengantin, ibu hamil, ibu dalam masa interval kehamilan, serta ibu dengan anak usia 0 – 59 bulan. Dengan pendampingan yang baik ini, kita optimis, angka stunting bisa mencapai target,” ujar Irzal.

Menurutnya selain memberikan sosialisasi dan pendampingan, para tim pendamping akan melakukan koneksi data ke aplikasi sebagai upaya mendeteksi lebih awal terhadap potensi bayi yang akan dilahirkan dengan melihat kodisi calon pasangan pengantin.

Dikatakanya jika melihat sesuai data SSGI yang dikeluarkan Kemenkes RI, angka stunting di Sumut mencapai 25,8% dan target 2024 diangka 14% sehingga butuh ke semua stakeholder.

“Kejar-kejaran dengan angka nasional yang berada di 24,4%. Tahun 2024 harus turun menjadi hanya 10%, dan waktu kita tinggal 2 tahun lagi. Tentu ini bukan hal yang mudah. Tapi kita harus optimis dengan kolaborasi dengan berbagai pihak mudah-mudahan bisa tercapai,” pungkasnya. (Red)