KUALA SIMPANG | Bau menyengat dari bangkai hewan ternak yang membusuk mulai tercium, bercampur dengan genangan lumpur tebal yang masih menutupi permukiman. Sulitnya akses air bersih membuat banyak warga tidak mandi berhari-hari dan hanya mengenakan pakaian seadanya yang juga dipenuhi lumpur, Rabu (3/12/2025).
Pantauan Orbit, Selasav(2/12/2025) sejumlah kendaraan seperti truk, bus, hingga mobil tangki terlihat mengangkut warga untuk mengungsi ke lokasi yang lebih aman. Ratusan kendaraan tertimbun lumpur dan tidak lagi dapat digunakan. Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) membuat sebagian warga nekat membongkar tangki mobil yang terendam untuk mendapatkan bensin.
Di beberapa wilayah perkotaan, sejumlah minimarket terlihat kosong dan rusak akibat penjarahan. Warga mengaku terpaksa melakukannya karena kelaparan dan lambatnya distribusi bantuan logistik.
Sementara itu, kondisi fasilitas kesehatan juga memprihatinkan. Di RSUD Aceh Tamiang, sejumlah jenazah masih belum diambil keluarga akibat akses jalan yang terputus dan tidak tersedianya transportasi. sebagian keluarga pasien juga mengevakuasi kerabat mereka sendiri untuk mendapatkan penanganan medis di tempat lain. Namun, sejumlah pasien tidak terselamatkan dan meninggal dunia karena tidak adanya pelayanan.
Salah satu keluarga pasien, Brigadir Yayuk Suseno mengatakan, kondisi semakin memburuk, Kami terpaksa menjarah minimarket karena tidak ada logistik. Sekarang rumah sakit pun sudah ditutup. Kami butuh bantuan segera, agar tidak ada lagi warga yang meninggal karena kelaparan dan tidak adanya air bersih.
Di lantai tiga RSUD Aceh Tamiang, seorang perempuan terlihat duduk memeluk jenazah suaminya yang merupakan pasien di rumah sakit tersebut. Dengan air mata terus menetes, ia berharap jasad suaminya segera dievakuasi untuk dimakamkan secara layak.
Banjir besar yang menerjang Kuala Simpang membuat ibu kota Kabupaten Aceh Tamiang lumpuh total bak kota mati. Ketersediaan air bersih menjadi persoalan serius, bahkan harga air mineral melonjak tajam di pasaran. Warga kini terpaksa bertahan secara mandiri dengan persediaan makanan yang sangat terbatas, sementara banjir telah berlangsung hampir satu minggu.
Sebelumnya, banjir besar merendam sedikitnya 12 kecamatan dan merusak ribuan rumah warga. Luapan air membawa material lumpur, batang kayu, hingga menghancurkan ratusan rumah di Dusun Suka Jadi, Desa Kesehatan, Kecamatan Karang Baru. Sejumlah tiang listrik tumbang, pepohonan roboh, jalan terputus, dan jaringan komunikasi di beberapa wilayah masih lumpuh.
Masyarakat berharap bantuan segera datang, terutama logistik dan air bersih, sebelum situasi semakin memburuk dan menelan lebih banyak korban. (OM/011)







