Ragam  

Tradisi Mandi Marpangir Sebelum Ramadhan Bukan Ajaran Hindu

KH. Akhyar Nasution. (Foto/Ist)

Oleh : KH. Akhyar Nasution

Bulan Ramadan selalu disambut bahagia oleh seluruh umat Islam. Tidak hanya di Indonesia, bahkan di seluruh dunia. Selain karena banyaknya berkah Ramadhan, hal yang selalu menjadi istimewa adalah meriahnya masyarakat Indonesia dalam menyambut bulan suci ini.

Apalagi Indonesia punya ribuan adat dan tradisi yang selalu menjadi warna tersendiri bagi kebudayaan kita. Salah satunya adalah tradisi mandi Marpangir yang dilakukan di beberapa daerah dalam menyambut bulan Ramadhan pada masyarakat Medan, Mandailing, Sipirok, Padang Lawas, Sibuhuan, Sidimpuan dan daerah lainnya.

Marpangir adalah kegiatan mandi dengan cara tradisional dengan tidak menggunakan wewangian dari sabun mandi atau sabun cair. Melainkan dari paket dedaunan dan rempah yang disebut Pangir.

Paket Pangir terdiri dari daun pandan, daun serai, bunga mawar, kenanga, jeruk purut, daun limau, akar wangi, dan bunga pinang. Jika sedang mudah ditemukan, terkadang ada juga yang menambahkannya dengan akar kautsar dan embelu.

Bahkan ada yang menyebutkan yang terpenting ada tujuh macam dedaunan dan rempah di dalamnya agar memberikan aroma terapi yang segar. Bahan bakunya pun banyak yang menjual dengan harga yang sangat terjangkau. Pasar-pasar tradisional banyak menjual ini dan hanya ada saat menjelang bulan Ramadan.

Cara membuat pangir yaitu dengan merebus pangir. Setelah itu, air rebusannya digunakan untuk mandi. Biasanya marpangir dilakukan satu hari sebelum hari Ramadhan. Di kota dilakukan di kamar mandi rumah masing-masing. Di desa dilakukan secara beramai-ramai di tempat pemandian karena keterbatasan masyarakat desa yang tidak mempunyai kamar mandi di rumah mereka.

Meskipun disebutkan sebagai tradisi lama di Sumatera Utara, namun sampai saat ini masih banyak yang melakukan tradisi ini sampai di Kota Medan dan Tapanuli Bagian Selatan.

Dahulu untuk melakukan tradisi ini, biasanya sekolah diliburkan sehari sebelum puasa. Sehingga masyarakat berbondong-bondong pergi ke pemandian untuk marpangir bersama. Meskipun tradisi ini juga bisa dilakukan sendiri di rumah bagi masyarakat kota.

Sejarah Marpangir

Tradisi mandi ini adalah berdasarkan ajaran Islam dan bukan tradisi umat Hindu, sebelum Islam masuk ke Indonesia. Meskipun ada tuduhan tradisi mandi ini adalah budaya masyarakat Hindu Kuno di Sumatera Utara.

Sejak awal masuknya Islam di Indonesia, marpangir sudah dilakukan oleh masyarakat muslim Suku Mandailing, Angkola, Sipirok di rumah masing-masing atau beramai-ramai ke tempat pemandian dengan aliran sungai. Hingga akhirnya berbagai masyarakat di Kota Medan juga rutin melakukan tradisi ini.

Tradisi marpangir tidak dipercaya untuk menghapus dosa. Namun untuk berwangi-wangian sesuai dengan ajaran Islam. Marpangir dilakukan lebih kepada antusiasme masyarakat menyambut kedatangan bulan suci Ramadan.

Marpangir membuat badan jadi lebih wangi dan bersih, dipercaya akan memperlancar pelaksanaan ibadah puasa terutama saat melaksanakan shalat tarawih. Karena wewangian memberi rasa nyaman dan sejuk.

Mengenai mandi bunga atau marpangir, adalah sebuah budaya yang dilakukan oleh para leluhur Islam, dengan tujuan agar di saat malam menjelang shalat tarawih, badan terasa bersih dan wangi. Hal ini selaras dengan ajaran Islam yang menyukai kebersihan.

Meskipun di dalam Islam tidak terdapat dalil yang qath’i (tegas) mengenai mandi pangir. Hanya saja dalam kutipan hadits Nabi Muhammad saw menegaskan ” Sesungguhnya Allah itu baik, mencintai kebaikan. Bersih mencintai kebersihan.” (H.R. Tirmizi)

Al Baqarah, 2 : 222 “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan membersihkan diri”.

Dalam pandangan Islam mengenai mandi pangir adalah hal yang diperbolehkan. Tapi jangan sampai seorang muslim menjadikan tradisi tersebut sebagai rukun dalam pelaksanaan puasa atau menjadi syarat sahnya puasa.

Tradisi mandi pangir sebelum Ramadhan adalah ajaran para ulama. Karena biasanya jamaah yang akan mengikuti shalat tarawih pada malam pertama Ramadhan sangat ramai. Sedangkan kondisi masjid pada saat itu belum masuk listrik. Belum punya kipas apalagi AC.

Hal ini akan membuat jamaah berkeringat karena banyaknya orang yang akan ikut shalat tarawih. Supaya bau keringat mereka tidak mengganggu kekhusukan shalat maka mereka diminta untuk mandi aroma teraphy sebelum ke masjid. Gunanya, meskipun mereka berkeringat, badan mereka tetap wangi bunga. Sehingga tidak mengganggu kekhusukan shalat. Wallahu a’lam.