Ragam  

Urban Farm Syifa Hydroponik, Berawal Hoby hingga Menghasilkan Cuan

Suardi raden pemilik Syifa hydroponik saat memanen sayur basil sejenis kemangi di urban farm miliknya jalan. Bromo lorong Amal Medan. Rabu (19/2/2025) Orbit digital/ Iwan gunadi

MEDAN | Syifa hidroponik yang berada di Jalan Bromo Lorong Amal No. 11 Medan, merupakan usaha rumahan sayur mayur sejak 10 tahun lalu. Berbagai budidaya sayuran seperti basil sejenis daun kemangi untuk saus pesto dan juga topping pizza.

Tidak hanya di kota Medan syifa hidroponik mempunyai cabang di Kkabupaten Deliserdang tepatnya di Desa Seirotan. Berbagi jenis sayur di budidayakan melalui sistem hydro.

Suardi Raden (55) pemilik Syifa Hydroponik mengatakan sejak 2014 berkebun sayur menggunkan hydroponik dengan memanfaatkan lahan di atas rumah (rooftop) hasilnya diberi ke tetangga dan akhirnya menghasilkan omset dari penjualan melalui warga sekitar hingga sosial media, sebutnya Rabu (19/2/2025).

Berawal tahun 2014 kita membentuk Urban Farming kota Medan walaupun pemerintah belum mencetuskan secara global, mereka memanfaatkan lahan kecil di roof top rumah untuk budidaya berbagai jenis sayuran yang setiap hari kita konsumsi. Jadi berbagai jenis sayuran kita tanam seperti Selada, kale (Brokoli) kangkung dan pakcoy.

“Karena saya tidak memahami sistem pemasaran dari musim panen, saya bagikan ke tetangga di sekitar rumah juga kepada tamu yang datang. Hal ini yang menjadi sesuatu yang sangat baik tanpa disadari mereka langsung beli. Sehingga kita tidak lagi bingung untuk pemasaran, apalagi sekarang sudah ada market place yang terbuka luas melalui sosial media dan langsung digemari masyarakat. Berawal sayur hydroponik tidak dibayar perlahan semua produk sayuran yang kita budidayakan secara otomatis laku terjual. Sekarang sayur sayuran ini makin diminati masyarakat bahkan kekurangan,” terangnya.

Berkurangnya Petani

Ia menjelaskan seiring waktu para petani hydroponik semakin berkurang. Karena tidak konsisten dengan hasil maupun omset yang kurang banyak

“Cuma yang menjadi kendala petani hydroponik yang ada di kota medan pada saat itu sekarang mulai menghilang dikarenakan kurang konsisten. Tidak fokus serta tidak yakin hasilnya kurang banyak. Jadi Urban Farming kita budidayakan sendiri dengan konsisten karena kita tahu mulai dari penyemaian hingga perawatan sampai kita konsumsi bagi masyarakat kota medan minimal bisa mengurangi untuk belanja sayur kepasar” jelasnya.

Suardi raden dengan hasil panen sayur basil di syifa hydroponik jalan. Bromo lorong Amal Medan, Sumatera Utara. Rabu (19/2/2025). Orbitdigital/Iwan gunadi

Untuk saat ini Suhardi raden konsisten dengan budidaya sayur basil. Harga perpacknya untuk satu ons /100 gram kita jual Rp.10.000, per hari nya bisa panen 2 – 5 kg untuk kebutuhan restoran hotel dan juga kafe yang ada di kota Medan.

Raden memanfaatkan rooftop ukuran luas 4 × 16 meter dengan lubang tanam sekitar 1500 (1500 batang sayur basil). Tanaman ini merupakan bumbu dapur yang sehari hari bisa dimanfaatkan juga di konsumsi. Tapi tidak semua masyarakat atau orang tahu bumbu dapur yang dibudidayakan olehnya.

Ia menambahkan indonesia kaya akan beragam bumbu dapur alami dari beebgai jenis sayuran. Kangkung, pakcoy, sawi dan lain- lain Hingga menjadi produk olahan UMKM yang bisa dipasarkan keluar daerah

“Sebenarnya indonesia kaya akan bumbu dapur jadi koita tidak perlu menggunakan produk dari luar seperti penyedap makanan (micin). Semakin banyak jenis sayuran yang kita tanam.
Jenis sayuran yang lain seperti kangkung kita budidayakan juga. Tapi kita jadikan satu produk turunan menjadi kangkung rendang untuk UMKM nya. Sementara sayur sawi dan pakcoy diolah menjadi keripik sawi. Semua jenis sayur yang kita jadikan produk olahan sudah ada kita pasarkan melalui sosial media seperti market place dan lain- lain” pungkasnya. (011/WOM)