
Ia berdalih, lokasi penyembelihan mayoritas dihuni masyarakat muslim yang memiliki tingkat ekonomi pas-pasan. Selain itu, Masjid relatif jauh dari lokasi penyembelihan.
“Sebelum kita memilih lokasi ini sebagai tempat berkurban, masyarakat sekitar mengaku jarang mendapatkan daging kurban dari Masjid di sekitar,” tuturnya.
Rachman mengklaim, terjadi peningkatan jumlah peserta kurban setiap tahun. Hal ini mengingat, pihaknya menerapkan sistem cicilan yang dikutip setiap bulan, sehingga dinilai para peserta tidak memberatkan.
“Kita juga melakukan perbandingan harga jual lembu atau pun kambing, sebelum memutuskan untuk membelinya dengan melibatkan seluruh peserta kurban saat melakukan survey ke lapangan,” urainya lantas menambahkan, biaya kurban senilai Rp2.100.000 per orang.







