Program Cetak Sawah di Madina Dinilai Gagal, Warga: Wujud Lahan Saja Tak Ada

MADINA | Program cetak sawah di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) sejak tahun 2010 – 2012 dianggap gagal, karena swasembada pangan di Kabupaten ini belum terwujud.

Dari data yang diperoleh bahwa setiap hektarnya dari cetak sawah akan menghasilkan 5 – 6 ton per hektar setiap panennya, apakah ini sudah tercapai…?

Menurut keterangan salah satu petani A. Nasution di Kecamatan Lingga Bayu, kepada Orbitdigitaldaily.com menyampaikan, bahwa program cetak sawah menurutnya gagal total bahkan wujudnya saja tak kelihatan.

“Tak ada lagi cetak sawah lagi di kelurahan Tapus ini, artinya program pemerintah untuk meningkatkan swasembada pangan tersebut gagal total, begitu juga dengan mengejar target surplus beras,” katanya via telepon.

Dijelaskan A Nasution, sejak adanya program cetak sawah di kelurahan Tapus, tidak ada pendampingan yang dilakukan oleh dinas Pertanian, bahkan sampai saat ini wujud cetak sawah itu saja sudah tak ada.

“Wujudnya saja tak ada, dan lokasi cetak sawah sudah beralih fungsi ke tanaman sawit karena petani kecewa cetak sawah tidak berhasil,” sebutnya.

Seketaris Pengurus Daerah Komunitas Aktivis Muda Indonesia (PD KAMI) Kabupaten Mandailing Natal Aspuddin Lubis, mengatakan, bahwa program cetak sawah di Kabupaten Madina dapat dipastikan gagal.

Aspuddin menjelaskan, dari data yang diperoleh sejak sahun 2010 ada 500 hektare cetak sawah di desa Bonda Kase dan desa Talukbale masing- masing 250 hektare dengan anggaran per hektarnya Rp.7.500.000. dan untuk tahun 2011 ada 600 hektare, di desa Banjar Aur Utara Kecamatan Sinunukan 300 hektare dan desa Tunas Karya Kecamatan Natal ada 300 hektar masing-masing per hektarnya Rp. 7.500.000.

Sementara untuk tahun 2012 ada 900 hektar cetak sawah, di kelurahan Tapus Kecamatan Lingga Bayu 450 hektar dan desa Hutapuli, Hutaraja, dan Huraba Kecamatan Siabu 450 hektar masing-masing per hektar Rp. 10.000.000.

“Nah jika luas lahan cetak sawah berfungsi dengan baik maka dapat dipastikan Kabupaten Madina tidak akan kekurangan pangan khusunya beras,” sebutnya.

Seketaris PD KAMI berharap, agar Bupati Madina H.Saipullah Nasution dapat melihat dimana lokasi cetak sawah tersebut agar dapat ditanami kembali guna menjadikan Kabupaten ini swasembada pangan dan surplus beras.

“Sebaiknya bupati Madina melakukan cek lokasi, apakah ribuan hektar yang di cetak masih ada atau tidak, jika tak ada lagi berarti belasan miliar kerugian negara akibat gagal cetak sawah tersebut,” terangnya.

(OD-29)