Oleh: Muhammad Amin, S.Ag., M.Pd.I
Zuriyat Tuan Guru Syekh Abdul Wahab Rokan Al khalidi Naqsyabandi; Pembina MGMP PAI Provinsi Sumatera Utara; Ketua Umum MGMP PAI Periode 2018-2021 dan 2021-2024
TUAN Guru Babussalam adalah seorang Wali Kutub, seorang ulama besar, pemimpin Thariqat Naqsyabandi, beliau juga seorang pejuang kemerdekaan. Tuan Guru dilahirkan pada tanggal 19 Rabiul Akhir 1230 H/30/31 Maret 1815 M. Tempat kelahirannya yaitu di kampung Danau Runda, Rantau Binuang Sakti, Negeri Tinggi, Rokan Tengah, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, (sekarang Desa Rantau Binuang Sakti, Kecamatan Kepenuhan, Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau).
Usia 115 tahun tepat pada 21 Jumadil Awal 1345 H/27 November 1926) atau 102 tahun yang lalu Tuan Guru kembali ke haribaan Allah Swt. Sejarah hidupnya akan tetap tercatat dan dikenang di dalam sejarah negeri ini. Dakwahnya dalam menyiarkan agama tidak saja masyhur di negeri ini tetapi juga sampai ke luar negeri.
Salah satu tokoh sejarawan dari Belanda bernama Martin Van Bruinesen dalam bukunya Thariqat Naqsyabandiyah di Indonesia hal 135 menulis tentang pengaruh dakwahnya di Sumatera dan Malaya seorang diri itu apa yang dicapai sebanding/sejajar dengan seluruh syekh yang ada di Minang Kabau. [Zikmal Fuad, Sejarah Hidup dan Perjuangan Dakwah Syekh Abdul Wahab Rokan, tt, h. 6.] Kita ketahui banyak syekh yang ada di Minang Kabau satu diantaranya adalah Ahmad Khatib Minang Kabau (1276-1334 H/1860-1916), beliau adalah guru dari tokoh besar Indonesia yaitu KH. Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah (18 November 1912) dan KH. Hasyim Asy’ari pendiri NU (31 Januari 1926).
Nama asli Tuan Guru adalah Abu Qosim bin Abdul Manaf bin M. Yasin bin Maulana Tuanku Haji Abdullah Tembusai bin Pak Edek bergelar Raja Nilawangsa bin Bendahara Gombak Tembusai merupakan keturunan raja-raja Siak. Ibunya Arbaiyah binti Tok Dagi bin Tengku Perdana Menteri Putra Sultan Ahmad Linta yang mempunyai pertalian darah dengan Sultan Langkat.
Dari silsilah ayahnya Syekh Abdul Wahab adalah keturunan bangsawan dan ulama sedangkan dari sebelah ibunya ia keturunan keluarga diraja. [Zikmal Fuad, Sejarah…, tt, h.9]. Beliau Wali Kutub seorang pencerah.
Sifat-Sifat Tuan Guru
Tuan Guru berperawakan sedang, berparas cantik, kulitnya putih kuning, air mukanya bersih, cerah dan berseri, menarik setiap orang yang melihatnya. Apabila berjalan sehelai selendang di pundaknya, hidup sederhana. Pakaiannya sering berwarna putih dan terkadang-kadang berwarna hijau. Berakhlak baik, Zahid dan tekun beribadah. Tidur hanya beberapa jam saja sehari. Tegas dan adil menjalankan peraturan dan hukum, jujur dan dermawan, tidak mementingkan diri sendiri, bergaul baik dengan anak dan istri, perangai dan tingkah laku yang merupakan ciri-ciri khas beliau yaitu istiqomah, tidak pernah tinggal salat berjemaah dan senantiasa berzikir, tidak pernah lekang wudhu, mengajar dan memberi nasihat setiap waktu, tidak sayang pada emas dan perak, perhatiannya tidak kepada uang atau harta benda, makan sekali sehari semalam, piringnya upih dan gelasnya dari tempurung, sayang terhadap orang yang taat dan benci terhadap orang yang tak pernah mengaji, bersikap sama terhadap anak dan muridnya, sangat benci melihat orang merokok di hadapannya, makan tidak suka lauk pauk yang banyak ragamnya, berjalan biasanya bertongkat, istrinya datang bergilir menghampirinya, bila terdengar orang mengucap ”Neraka” maka mengalir air matanya, mengajar kitab-kitab agama setiap pagi, sesudah Zuhur dan sesudah Salat Maghrib, setiap Jumat bertadarus Alquran selama 3 jam, sesudah Isya tidur tengah malam bangun duduk untuk berzikir sampai Subuh, sangat rajin membantu fakir miskin, tiada pernah memutuskan harapan orang yang meminta, tiada pernah menyimpan uang Rp10,0 dalam sebulan, sesuai kata dengan perbuatan, ia adalah seorang sufi yang zahid dan wara’ tiada hanyut dalam kemewahan dunia. [H. Ahmad Fuad Said, Syekh Abdul Wahab Tuan Guru Babssalam (Medan : Pustaka babussalm, Cet .9, 2001), h. 18]
Pendidikan dan Guru-Guru
Semasa kanak-kanak, Tuan Guru belajar dengan seorang ulama terkenal dari Sumatera Barat asal Minang Kabau yang bernama H. Muhammad Saleh. H. Muhammad Saleh adalah seorang qori (ahli seni baca Alquran). Sampai akhir hayatnya ulama ini meninggalkan ribuan murid dan karena wara’-nya beliau tidak menikah, menurutnya sulit mencari wanita yang salehah. Hal ini diilustrasikan seperti mencari gagak putih di tengah-tengah kumpulan gagak hitam.
Ketika kecil Tuan Guru sudah tampak tanda-tanda bahwa ia akan menjadi orang besar bemartabat tinggi, dengan ketekunan, kepatuhan dan kesabaran beliau belajar terkadang sampai bermalam di rumah guru dan dengan kesabarannya ia ikhlas dihukum walaupun ia tak bersalah. Sebuah kisah menceritakan: Pada suatu malam M. Yunus dan Tuan Guru kita (Abu Qosim) menghapal kaji di rumah. M. Yunus mengganggu adiknya ketika ia membaca Alquran. Tuan Guru kecil mengingatkan agar tidak bermain di depan kitab suci. Namun hal tersebut tidak membuat M. Yunus berhenti bermain-main sehingga kitab suci tersebut terjatuh. Abdul Manaf memperhatikan mereka, kadang-kadang mendekati kadang membiarkan mereka menghapal. Tatkala melihat kitab suci terjatuh ia pun menanyakan siapa yang melakukan hal tersebut. M. Yunus pun langsung menunjuk bahwa Tuan Guru kecil (Abu Qosim) lah yang melakukan hal itu. Lalu dipukullah Tuan Guru kecil (Abu Qosim) dengan sebilah rotan beberapa kali hingga berdarah kepalanya oleh ayahnya (Abdul Manaf) tanpa diusut terlebih dahulu. Meskipun sakit dan bercucuran air matanya ia tetap mengaji. Belakangan baru tahu bahwa M. Yunus lah yang menjatuhkannya. Dan timbullah penyesalan ayahnya (Abdul Manaf) lalu dibersihkannya kepala Tuan Guru kecil (Abu Qosim) seraya berdoa kelak ia tidak disentuh api neraka, kabarnya bekas luka itu masih ada sampai akhir hayatnya.
Pada kisah yang lain, Tuan Guru kecil (Abu Qosim) dihukum oleh gurunya karena ditipu oleh teman-temannya untuk mengambil mangga karena gurunya menginginkan buah tersebut, sampai-sampai ia tersengat lebah sehingga bengkak-bengkak badannya, namun ia menerima hukuman itu dengan tulus tanpa ada kejengkelan di raut wajahnya yaitu membaca Alquran sampai Subuh.
Pendidikan Tuan Guru kecil (Abu Qosim) dilanjutkan ke Tembusai. Waktu itu Tembusai terkenal dan banyak pelajar meramaikan daerah ini. Ada diantara mereka yang melanjutkan ke Mekkah setelah belajar di sini atau ke Aceh yang saat itu juga Aceh terkenal maju dalam bidang Agama Islam.
Maulana Syekh H. Abdul Halim dan Syekh Muhammad Saleh Tembusai. Kedua ulama ini adalah ulama yang tersohor waktu itu di negeri Tembusai, Rokan, di Riau. Kedua ulama ini mengembangkan ilmu agama termasuk nahwu shorof, mantik, tauhid, tafsir, hadits, fiqih, dan lain-lain. Lebih kurang selama 3 tahun Tuan Guru kecil (Abu Qosim) telah mampu menguasai ilmu-ilmu tersebut dan memeroleh gelar ”Faqih” suatu gelar kehormatan sebagai pertanda kedalaman ilmu dalam bidang fiqih, Tuan Guru pun diberi gelar Faqih Muhammad, yang sebelumnya bernama Abu Qosim.
Walaupun Tuan Guru telah memeroleh gelar faqih, ia tidak merasa puas dari apa yang diperolehnya. Ia ingin melanjutkan pendidikannya ke tanah suci Mekkah. Pada tahun 1277 H/1861 M, sebelum perjalanan Tuan Guru sampai di Mekkah, ia berdagang dengan membuka kedai sampah di Sungai Ujung (Simujung). Para pembeli disuruh menimbang sendiri sehingga ia terlepas dari kemungkinan curang atau silaf. Kegiatan perdagangan dan perekonomian Tuan Guru sangat menjaga dari praktik riba, Tuan Guru sangat memahami betapa berat risiko para pemakan riba di dunia dan akhirat. Selain berniaga Tuan Guru belajar kepada Syekh H. Muhammad Yusuf asal Minang Kabau, yang belakangan menjadi Mufti di Langkat dan terkenal dengan panggilan ”Tuk Ongku.” Tuk Ongku ini adalah orang karomah dan wafat di Tanjung Pura dan dimakamkan di samping Masjid Azizi.
Lebih kurang dua tahun kemudian (1279 H/1863 M), Tuan Guru (Faqih Muhammad) melanjutkan perjalanannya bersama ayah angkatnya yang bernama Haji Bahauddin ke Mekkah. Sebelum berangkat mereka berziarah kepada salah seorang syekh yang memiliki banyak karomah bernama Habib Nuh. Makamnya di atas bukit di Tanjung Pagar di Singapura. Menurut riwayat Pemerintah Singapura hendak memindahkan makam Syekh ini namun gagal karena tanahnya keras tidak bisa dibongkar. Tuan Guru (Faqih Muhammad) ketika berziarah kepadanya terjadi hal aneh yaitu Syekh Habib Nuh ini mencium tangan, bahu, dan seluruh tubuhnya, yang tidak pernah ia lakukan kepada orang lain seraya berkata ”Barokallaahu barokallaahu”, hal ini mengherankan orang banyak. Seorang pedagang dari Sungai Ujung bersedekah kepadanya namun Syekh ini menolaknya.
Di Mekkah Tuan Guru (Faqih Muhammad) setelah mengerjakan haji, ia mendapat gelar Haji Abdul Wahab Tanah Putih yang sebelumnya bergelar Faqih Muhammad. Ia belajar kepada Zaini Dahlan yaitu Mufti Mazhab Syafi’i dan kepada Syekh Hasbullah dan belajar pula kepada guru-guru asal Indonesia seperti Syekh M. Yunus bin Abd. Rahman Batubara, Syekh Zainuddin Rawa, Syekh Rukhuddin Rawa, dan lain-lainnya. Tuan Guru belajar thariqat dengan Syekh Sulaiman Zuhdi. Tuan Guru diangkat menjadi Khalifah Besar dengan memberikan ijazah, bai’ah, dan silsilah Thariqat Naqsyabandi yang berasal dari baginda Rasulullah Saw sampai kepada Syekh Sulaiman Zuhdi dan seterusnya kepada Syekh Abdul Wahab Al Khalidi Naqsyabandi. Ijazah itu ditandai dengan dua cap. Ia memperlihatkan ijazahnya dari Syekh Sulaiman Zuhdi itu kepada Syekh M. Yunus. Biasanya ijazah itu hanya satu cap saja, sehingga Syekh M. Yunus menanyakan hal tersebut kepada Syekh Sulaiman Zuhdi. Beliau menjawab: ”Dengan ijazah ini, semoga H. Abdul Wahab bin Abdul Manaf itu akan mengembangkan dan memasyhurkan Thariqat Naqsyabandiah ini di Indonesia dan Malaysia serta daerah-daerah sekitarnya, beberapa sultan berguru kepadanya dan beberapa panglima yang gagah perkasa akan tunduk kepadanya dan orang kafir dan Islam hormat kepadanya.” H. M. Yunus pun terdiam dan tiada beberapa lama ia pun menggelarnya dengan H. Abdul Wahab Rokan Al Khalidi Naqsyabandi, dihubungkan dengan Rokan karena di hulu Tanah Putih terdapat sebuah sungai yang bernama Rokan tempat asal beliau. [A. Fuad Said, Syekh …, h. 32]
Fakta sejarah telah membuktikan ucapan Syekh Sulaiman Zuhdi ini, jangan kan ketika hidup, pusaranya pun tetap dihormati dan diziarahi oleh berbagai kalangan dan lapisan masyarakat.
Ketika ia belajar, suatu ketika Syekh Sulaiman Zuhdi menyuruh murid-muridnya untuk membersihkan kakus. Kawan-kawan sepengajiannya merasa segan dan jijik, bahkan ada pula diantara mereka tidak mematuhinya. Lain pula dengan Tuan Guru kita, dengan tidak merasa jijik sedikitpun diangkatnya kotoran gurunya itu dengan tangannya, dengan waktu relatif singkat bersihlah kakus itu.
Selesai bergotong royong Syekh Sulaiman Zuhdi menegaskan kepada murid-muridnya, bahwa tangan Abdul Wahab ini kelak akan dicium oleh raja-raja sekembalinya ke tanah air. Kebenaran ucapan gurunya itu telah terbukti. Sekali lagi, fakta sejarah tertoreh bahwa banyak sultan menjadi muridnya, bahkan Sultan Musa yang memiliki kekuasaan tertinggi di Kerajaan Langkat bukan saja pernah mencium tangan beliau melainkan pernah dihukum, dengan menyuruh taubat dan membaca istighfar di Tangga Madrasah Babussalam.
Peristiwa yang lain yang terjadi adalah ketika gurunya Syekh Sulaiman Zuhdi memerintahkan kepada murid-muridnya untuk mengangkat batu-batu kerikil untuk suatu bangunan, teman-temannya merasa heran karena dengan relatif singkat telah selesai dilakukannya, yang menurut akal sehat hal tersebut di luar kesanggupan manusia.
Setelah 6 tahun di Mekkah kembalilah Tuan Guru ke tanah air. Sebelum membangun Desa Babussalam, terlebih dahulu ia berdakwah mengajarkan ilmu agama ke berbagai daerah. Bermula ia menuju Kubu dan di Kubu ini ia menikah dengan seorang putri bernama Mariah anak Datuk Cahaya Tua.
Pada tahun 1285 H/1869 M, ia membangun sebuah kampung yang bernama Kampung Mesjid. Kampung inilah yang dijadikan Tuan Guru sebagai basis dakwahnya untuk menyebarkan agama ke daerah-daerah sekitarnya, seperti Kualuh, Panai, Bilah, Kota Pinang, Kabupaten Labuhanbatu (Sumatera Utara), Dumai, Bengkalis, Pekan Baru (Riau), dan Sungai Ujung (Malaysia). Beberapa muridnya bergelar fakih-fakih, khalifah-khalifah, dan guru-guru Thariqat Naqsyabandi. Beliau juga mengirim murid-muridnya ke daerah minoritas Islam seperti Sipirok, Padang Sidempuan, Gunung Tua di Kabupaten Tapanuli Selatan (Sumatera Utara). Khalifah Tua atau muridnya yang menjadi khalifah yang pertama sekali bernama H. M. Shaleh bin H. Baharuddin asal Kubu, Sungai Pinang (Riau).
Membangun Babussalam
Bermula Tuan Guru kita tinggal di Babussalam ini adalah atas bujukan dan permintaan Sultan Musa Al Mua’zzam Syah, ”Kalau saya mati, tuan lah yang menanam saya dan kalau tuan yang mati saya lah yang menanam tuan.” Sebelum tinggal di Babussalam ini Tuan Guru ditawari untuk bertetap di Kampung Lalang lebih kurang 1 km dari Kota Tanjung Pura. Namun tempat ini kurang sesuai menurut pertimbangan Tuan Guru karena ramai dan sibuknya tempat tersebut. Maka Tuan Guru meminta kepada baginda Sultan agar diberikan sebidang tanah untuk sebuah perkampungan di mana ia dapat dengan leluasa beribadah dan mengajarkan ilmu agama. Baginda Sultan Musa pun mengabulkan permintaan ini lalu menyarankan untuk memilih tanah-tanah mana yang ia sukai.
Pada suatu hari berangkatlah Tuan Guru beserta baginda Sultan, Tuan Baki, Syekh M. Yusuf, dan lain-lain menyusuri Sungai Batang Serangan menuju ke hulu dengan sebuah perahu. Setibanya di sebuah tempat berhentilah rombongan tepatnya di seberang Sungai Besilam dan mereka naik ke darat lalu baginda Sultan pun mempersilakan Tuan Guru untuk memilih tanah-tanah yang ada di tempat itu. Tanah ini sebahagian besarnya ditanami palawija, ada juga terdapat durian, cempedak, margat, dan lain-lain dan sebahagiannya yang lain bekas kebun lada.
Tatkala rombongan peninjau ini lagi asyik melihat-lihat, tiba-tiba baginda Sultan Musa melihat sebuah batu besar terletak di atas tunggul. Letak batu besar itu persis tentang mihrab madrasah besar sekarang ini. Melihat hal tersebut baginda Sultan itu pun bertitah: ”Tuan lihatlah batu itu, naik ke atas. Mudah-mudahan kelak nama dan derajat tuan menjadi naik.” Baginda memerintahkan supaya batu itu ditanamkan di tempat itu juga seraya bertitah: ”Batu ini adalah benda yang tetap, sebab itu saya bermohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, semoga tetaplah tuan di tempat ini.” Tuan Guru menjawab pula ”Mudah-mudahan dikabulkan Allah Taala doa Tuanku, semoga tuanku ditambah Tuhan pangkat dan derajat dimudahkan rezeki yang halal dan disampaikan segala cita-cita yang baik. Setelah Salat Zuhur maka Tuan Guru meresmikan tempat tersebut dengan nama Kampung Babussalam.
Kata Babussalam berasal dari Bahasa Arab, terdiri dari dua kata, yaitu “Bab” dan “Salam.” Bab berarti pintu dan Salam berarti keselamatan dan kesejahteraan. Mungkin dinamakan tempat itu dengan Babussalam semoga penduduknya beroleh kesejahteraan dan keselamatan dunia dan akhirat. Ada juga yang meriwayatkan bahwa Babussalam adalah hasil pandangan mata hati Tuan Guru melihat Ka’bah melalui pintu Babussalam yang berada di Masjidil Haram.
Selesai peninjauan itu Sultan Musa turun ke sungai tak beberapa lama kemudian disusul oleh Tuan Guru dengan membawa limau nipis sebanyak 3 buah. Inilah pertanda mereka akan bermasam–masaman muka paling lama 3 tahun kemudian baik kembali. Tuan Guru pindah secara resmi ke Babussalam ini tepat pada tanggal 15 Syawal 1300 H dengan rombongan berjumlah 172 orang dengan menggunakan 13 buah perahu.
Beberapa Dimensi Pembangunan Kampung Babussalam
Menurut Dr. H. L. Hidayat Siregar dalam bukunya Aktualisasi Ajaran Tarikat Syekh Abdul Wahab Rokan Al Kholidi Naqsyabandi, Sejarah Sosial Tarikat Naqsyabandiyah Sumatera Utara, terdapat 7 bidang pembangunan yang dilakukan Tuan Guru yaitu : 1) Bidang Sarana Fisik, 2) Bidang Hukum, 3) Bidang Ekonomi, 4) Bidang Politik, 5) Bidang Pendidikan dan Pengkaderan, 6) Membina Persaudaraan, 7) Bidang Dakwah.
1) Bidang Sarana Fisik
Diantaranya adalah seperti Rasulullah Saw sewaktu memasuki kota Madinah yang Baginda Rasul bangun terlebih dahulu adalah masjid. Dan inilah awal berkembang pesatnya dakwah Rasulullah Saw. Tuan Guru juga mengikuti langkah Rasulullah dengan membangun musala yang kita kenal dengan sebutan “madrasah” atau “mandarsah” dan belakangan sering kita sebut dengan “Nosah”, dengan ukuran 10 x 16 depa (lebih kurang 15 x 24 meter). Sesuai dengan perkembangan, madrasah ini mengalami perluasan karena tidak lagi dapat menampung para jemaah. Pada tahun 1307 H madrasah ini diganti dengan ukuran 23 x 8 depa, dan pada tahun 1325 H madrasah ini diperbaharui dan diperluas menjadi 25 x 52 m. Kemudian membangun rumah suluk
2) Bidang Hukum
Sebagai daerah yang otonom, Babussalam memiliki aturan sendiri diantaranya 1) Membentuk sebuah lembaga Permusyawaratan disebut dengan Babul Funun, 2) Tidak boleh membiarkan ayam berkeliaran, sanksinya dipandang milik bersama, 3) Tidak boleh merokok di depan umum, 4) Tiga kali dilarang meninggalkan salat berjemaah, 5) Dilarang yang non muslim untuk tinggal di sini, dan 6) bagi mereka yang melanggar akan dikenakan sanksi yang disebut dengan dam seperti mencuri ayam akan dihukum berupa mengucap ”Astaghfirullah taubat aku mencuri ayam”, …berulang-ulang sampai beberapa jam lamanya.
3) Bidang Ekonomi
Diantaranya adalah 1) Membuka pertanian jeruk manis, hasil per tahun Rp7.000,00, 2) Membuka perkebunan karet, 3) Membuka perkebunan lada hitam, di kala itu pernah ditawar oleh seorang pedagang dengan harga yang sangat tinggi yaitu Rp1.250.000,00 4) Membuka peternakan ayam, kambing, dan lembu, 5) Membuka tambak ikan, 6) Percetakan, buku yang dicetak diantaranya Soal Kawab, Aqidatul Iman, Sifat Dua Puluh, dan Adab Suami Istri.
4) Bidang Politik
Diantaranya adalah 1) Berhasilnya Tuan Guru dalam mengembangkan dakwah sehingga banyak sultan menjadi muridnya, dan 2) Mendirikan Syarikat Islam cabang Babussalam. Dengan mendelegasikan dua orang putranya yaitu Pakih Tuah dan Pakih Tambah dan seorang tokoh yang bernama H. Idris Kelantan untuk bertemu dengan H. O. S. Cokro Aminoto dan Raden Gunawan. Ini adalah satu strategi bentuk perlawanan terhadap kolonial Belanda.
5) Bidang Pendidikan dan Pengkaderan
Diantaranya adalah 1) Sebutan Tuan Guru yang melekat pada dirinya menunjukkan bahwa ia seorang pendidik yang paripurna. Sehingga ia diterima masyarakat dari berbagai macam kelas sosial di kala itu, 2) Setelah Salat Maghrib Tuan Guru mengajar Kitab Tasawuf ”Sairus Salikin” karya Imam Ghazali, jika sudah tamat diulang kembali, 3) Sepanjang hidup Tuan Guru telah mengangkat 126 orang khalifah tersebar di daerah Langkat, Deli Serdang, Asahan, Panai, Kota Pinang, dan Tapanuli Selatan (Provinsi Sumatera Utara). Kemudian Kubu, Tembusai, Tanah Putih, Rambah, Indra Giri Rawa, Kampar, dan Siak (Provinsi Riau). Juga terdapat di Provinsi Sumatera Barat, Aceh, Jawa Barat, Malaysia, dan ada juga khalifah yang berasal dari Cina.
6) Membina Persaudaraan
Secara otomatis sesama mereka yang masuk tarikat akan terbentuk suatu hubungan emosianal. Tarikat ini bisa memiliki potensi yang sangat besar dalam membangun Babussalam khususnya dan bangsa ini pada umumnya. Membangun hubungan baik dengan raja-raja serta sultan yang taat.
7) Bidang Dakwah
Diantaranya: 1) Hidup Tuan Guru dihabiskannya untuk berdakwah amar ma’ruf nahi mungkar. Seluruh sisi kehidupannya dijadikannya teladan bagi murid-muridnya. Mengajar kitab-kitab agama setiap pagi, sesudah Zuhur dan sesudah Salat Maghrib sampai masuk waktu Isya. 2) Mengutus murid-muridnya untuk berdakwah.
Wafat Tuan Guru
Tuan Guru meninggalkan kita semua dalam usia 115 tahun, tepat pada tanggal 21 Jumadil Awal 1345 H/27 November 1926 M. Dengan meninggalkan ribuan murid, 126 khalifah yang tersebar, 27 istri dan hanya 4 orang yang semasa, 26 putra dan putri, sedangkan cucu pada saat itu belum terdata.
Setelah Tuan Guru Syekh Abdu Wahab Rokan Al Kholidi Naqsyabandi wafat maka kepemimpinan terus dilanjutkan oleh 12 orang zuriyat (keturunan)-nya sebagai pemimpin thariqat sebagai mursyid dan nazir, dan saat ini kepemimpinan thariqat sebagai mursyid dan nazir adalah Syekh Dr. H. Zikmal Fuad, MA sebagai Tuan Guru Babussalam yang ke-12. Semoga ridha dan kasih sayang Allah Swt terlimpahkan kepada tuan guru semua. Aamiin ya rabbal alamiin.
Pembangunan Makam Tuan Guru
Pembangunan Makam Tuan Guru dimulai pada tahun 1346 H/1927 M. Dipelopori oleh H. Yahya, Pakih Tuah, keduanya adalah putra Tuan Guru, Pakih Muhammad dan H. M. Nur, keduanya adalah menantu Tuan Guru. Makam ini terdiri dari 3 ruangan besar, memanjang dari Utara ke Selatan dengan ukuran 24 x 45 m. Sebelah Utara untuk mengaji dan sekarang menjadi Perpustakaan Umum Babussalam, di bagian tengah terletaknya makam Tuan Guru dan sebelah Selatan tempat salat jenazah.
Penutup
Demikianlah sejarah singkat perjalanan hidup Tuan Guru Syekh Abdul Wahab Rokan Alkholidi Naqsyabandi. Masih banyak lagi kisah yang belum tersampaikan saat ini. Sekarang Kampung Babussalam dijadikan satu-satunya destinasi wisata religi Kabupaten Langkat dengan Surat Keputusan Bupati Langkat Nomor 430-16/K/2019. Semoga bermanfaat, segala maksud terwujud, dan segala hajat tercapai. (Artikel ini ditulis dalam rangka menyambut Haul ke-102 Tuan Guru Babussalam pada Selasa malam tanggal 21 Jumadil Awal 1447 H/12 November 2025 M)







