MEDAN | Pengurus Yayasan Dewi Kwan Im dan Kelenteng Sui San King yang berlokasi di Jalan Syahbudin Yatim, Pekan Labuhan, Kecamatan Medan Labuhan, menyatakan kekhawatiran dan rasa resah atas maraknya pedagang yang berjualan tepat di depan pagar kelenteng.
Menurut keterangan yang diterima, aktivitas jual beli tersebut dinilai mengganggu kenyamanan dan ketertiban di area tempat ibadah umat Khonghucu tersebut.
Selain menghalangi akses masuk dan keluar jemaah serta pengunjung, keberadaan pedagang yang menempati area depan pagar juga dianggap mengurangi suasana khidmat dan kesucian lingkungan kelenteng.
“Kami memahami bahwa para pedagang juga mencari nafkah, namun lokasi yang dipilih justru berada di area yang seharusnya menjadi akses utama dan area suci. Hal ini membuat kami merasa terganggu dan khawatir akan keamanan serta kenyamanan umat yang datang beribadah,” ujar salah seorang pengurus, Minggu (03/05/2026).
Dari pantauan di lokasi, terlihat sejumlah pedagang mendirikan tenda dan meja dagangan di sepanjang area depan pagar kelenteng. Mereka menjual berbagai jenis barang dan makanan. Kondisi ini membuat area tersebut terlihat sempit dan ramai, sehingga mengurangi keindahan serta nilai historis bangunan kelenteng yang sudah berdiri sejak lama.
Pihak pengurus berharap adanya perhatian dari pihak terkait, seperti dinas perizinan dan kepolisian, untuk menertibkan pedagang agar tidak lagi berjualan di area depan pagar kelenteng.
Mereka juga berharap dapat ditemukan solusi yang baik bagi kedua belah pihak, sehingga hak para pedagang untuk berusaha tetap terjaga, namun kenyamanan dan ketertiban di tempat ibadah juga tetap terpelihara.
Lurah Pekan Labuhan Roy Sulaiman Batubara saat dikonfirmasi Orbit Digital via WhatsApp pada Minggu (03/05/2026) menjawab singkat. “Nanti ditindaklanjuti mungkin besok lah ya bg,” katanya. (0M-18)







