Medan  

Teater Kontemporer Re-Posisi Zikir di Atas Panggung Terapung Sungai Deli Mendapat Antusias Warga

Pertunjukan Teater Kontemporer Re- Posisi Zikir Sungai Deli di Gg Ksatria Kecamatan Medan Maimun. Sabtu (20/6/2026) Orbitdigital/Iwan gunadi

MEDAN |  Seniman teater Medan, Hafiz Taadi, berkolaborasi dengan Sanggar Anak Sungai Deli (SASUDE) serta sejumlah komunitas seni menggelar kegiatan Re-Posisi Zikir Sungai Deli di SASUDE, Jalan Brigjen Katamso, Gang Kesatria, Medan Sabtu (20/6/2026)

Kegiatan berlangsung selama dua hari 19- 20 Juni dengan berbagai rangkaian kegiatan dari mulai zikir budaya, diskusi publik, pameran, sastra, peluncuran buku, hingga pertunjukan teater kontemporer sebagai upaya membangun kembali kesadaran masyarakat terhadap Sungai Deli sebagai bagian penting sejarah dan peradaban Kota Medan.

Rangkaian kegiatan diawali dengan berbagai aktivitas kebudayaan dan interaksi masyarakat, mulai dari pembacaan puisi, penyerahan tali asih, pameran, hingga diskusi publik yang membahas posisi Sungai Deli dalam kehidupan masyarakat perkotaan saat ini.

Pada hari kedua, Sabtu (20/6) kegiatan dilanjutkan dengan peluncuran buku dan ditutup dengan pertunjukan teater kontemporer sebagai acara puncak.

Para seniman usai menggelar rangkaian kegiatan Re- Posisi Zikir Sungai Deli Teater Kontemporer. Sabtu (20/6/2026) Orbitdigital/Iwan gunadi

Terlihat antusias masyarakat pinggiran sungai deli menyaksikan pertunjukan teater kontemporer yang di gagas oleh Hafiz Taadi

Sutradara Hafiz Taadi, mengatakan bahwa kegiatan tersebut lahir dari kegelisahan atas semakin renggangnya hubungan masyarakat dengan Sungai Deli.

“Melalui pendekatan seni pertunjukan, kami ingin mengajak masyarakat kembali melihat Sungai Deli bukan sekadar aliran air, tetapi ruang peradaban yang memiliki sejarah, budaya, dan nilai kehidupan yang penting bagi Kota Medan,” ujarnya.

Menurut Hafiz, konsep pertunjukan dikemas dalam bentuk teater kontemporer yang memadukan berbagai elemen budaya lokal seperti tradisi tutur, musik etnik, sastra, dan multimedia. Seluruh unsur tersebut dirancang untuk membangun ruang refleksi mengenai kondisi Sungai Deli saat ini sekaligus harapan terhadap masa depannya.

“Kami mencoba menerjemahkan situasi Sungai Deli melalui bahasa seni yang dekat dengan masyarakat. Seni memiliki kemampuan menyentuh sisi emosional sehingga pesan-pesan lingkungan dan kebudayaan dapat diterima lebih mendalam,” katanya.

Sementara itu, Founder Sanggar Anak Sungai Deli (SASUDE), Lukman Hakim Siagian, selaku tuan rumah kegiatan menyambut baik kolaborasi berbagai komunitas dan pelaku seni dalam kegiatan tersebut.

Lukman menyampaikan Sungai Deli tidak hanya memiliki nilai ekologis, tetapi juga menjadi ruang hidup masyarakat yang menyimpan banyak cerita dan jejak sejarah Kota Medan.

“Kami berharap kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat kepedulian masyarakat terhadap Sungai Deli. Upaya menjaga sungai tidak bisa dilakukan sendiri, tetapi membutuhkan keterlibatan semua pihak, mulai dari komunitas, seniman, akademisi, hingga masyarakat umum,” ujarnya.

Ia menambahkan, keberadaan SASUDE selama ini berupaya menjadikan kawasan bantaran Sungai Deli sebagai ruang belajar, ruang budaya, dan ruang perjumpaan masyarakat dengan sungai.

“Kegiatan seperti ini penting agar masyarakat kembali merasa memiliki Sungai Deli. Ketika rasa memiliki itu tumbuh, maka kesadaran untuk menjaga dan merawat sungai juga akan semakin kuat,” katanya.

Puncak akhir kegiatan ditandai dengan pertunjukan teater kontemporer yang digelar di atas panggung terapung di Sungai Deli. Pertunjukan tersebut menghadirkan kolaborasi lintas disiplin seni yang mengangkat tema hubungan manusia, lingkungan, dan peradaban sungai.

Melalui kegiatan Re-Posisi Zikir Sungai Deli, para penyelenggara berharap lahir ruang dialog yang lebih luas mengenai masa depan Sungai Deli sekaligus mendorong tumbuhnya gerakan kolektif untuk menjaga dan merawat sungai sebagai bagian penting identitas Kota Medan. (OM/011)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *