Afrida menambahkan, kalau memang ada mosi tidak percaya seharusnya pengurus Persani Sumut melakukan penyelidikan selama 3 hari untuk mencari kebenaran mosi tidak percaya tersebut, namun itu tidak dilakukan tapi langsung menerbitkan SK karateker.
“Saya meminta agar SK Persani Labuhanbatu hasil Musdalub supaya dibekukan. Karena saya tidak ada menerima surat pembekuan SK. Saya juga berencana akan melakukan somasi ke Persani Sumut.
Ada apa ini semua. Saya merasa terzolimi. Saya yang membangun Persani ini selama 3 bulan sejak SK saya terima. Persani ini sudah saya rintis sejak awal dan saya tidak mau kerjaan saya diambil alih,” jelas Afrida.
Afrida juga mempertanyakan mosi tak percaya tersebut berdasarkan apa karena info yang diterimanya, semua instruktur senam disuruh agar membuat tanda tangan.
“Saya dapat info ada beberapa instruktur senam yang tidak menandatangani, namun tanda tangan mereka diduga dipalsukan,” ujar Afrida.
Salah seorang instruktur senam yang meminta namanya dirahasiakan mengakui bahwa mereka mengikuti rapat luar biasa di Kantor KONI Labuhanbatu dan diundang oleh karateker dan pengurus, namun Ketua Persani Labuhanbatu Afrida memang tidak hadir.
“Disana kepada peserta dijelaskan seluruh masalah yang terjadi di dalam kepengurusan Persani. Itulah yang saya tahu. masalah kepengurusan ini kami gak tahu jelasnya,” ujarnya.
Reporter : Robert Simatupang







