Medan  

‎Anggota DPR Eva Monalisa Terpikat Tas Anyaman UMKM Lokal

Eva Monalisa beli tas anyaman Simata

MEDAN | Kunjungan kerja spesifik anggota Komisi VII DPR RI ke Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) ke-50 Tahun 2026 membawa angin segar bagi produk kerajinan unggulan daerah.

‎Di tengah deretan paviliun 33 kabupaten/kota, rombongan anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi PKB, Eva Monalisa, terpikat pada tas anyaman Simata berwarna krem, salah satu produk binaan Dekranasda Kabupaten Tapanuli Selatan.

‎Dalam kunjungan yang dipimpin Evita Nursanty, anggota Komisi VII DPR RI Eva Monalisa langsung membeli produk unggulan tanpa menawar harga. Ia juga menolak tawaran Direktur Utama PT Pembangunan Prasarana Sumatera Utara (PPSU), Fery Indrawan, yang ingin membayar.

‎Politikus daerah pemilihan Jawa Tengah III itu mengaku memiliki ketertarikan terhadap produk-produk UMKM lokal Sumatera Utara. Selain kualitasnya, desain tas anyaman dinilai memiliki nilai estetika tinggi dan sesuai dengan seleranya.

‎”Saya memang penggemar produk UMKM. Saya juga menyukai desain-desain kerajinan, apalagi warna tas ini merupakan warna favorit saya sekaligus identik dengan warna partai saya,” ujarnya.

‎Eva Monalisa berharap produk UMKM Indonesia terus berkembang dan mampu menjadi penggerak utama ekonomi masyarakat di berbagai daerah. Baginya penguatan UMKM adalah kunci menjaga ketahanan energi dan sumber daya alam.

‎”Semoga UMKM Indonesia semakin maju dan menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat nusantara. Selamat untuk UMKM Indonesia,” katanya.

‎Eva juga mengungkapkan bahwa dirinya telah lama mengoleksi berbagai produk kerajinan khas dari sejumlah provinsi di Indonesia sebagai bentuk dukungan terhadap karya para perajin lokal.

‎Dalam kunjungan, Eva membelanjakan sekitar Rp8.762.000 berbagai produk unggulan Tapanuli Selatan, di antaranya satu set Songket Naduma, kain tenun, ulos, tas anyaman Simata, gula aren, gula semut aren, ikan sale, kerupuk ikan lele, hingga makanan tradisional Alame (dodol).

‎Menurutnya, transaksi tersebut tidak hanya memberikan nilai ekonomi bagi para pelaku UMKM, tetapi bukti produk kerajinan dan pangan olahan Sumatera Utara memiliki kualitas yang mampu bersaing serta diminati oleh kalangan nasional.

Anggota DPR ini memborong produk lokal di PRSU

‎Kunjungan kerja spesifik Komisi VII DPR RI ke PRSU ke-50 sekaligus menjadi ajang bagi penyelenggara memaparkan transformasi PRSU sebagai etalase perdagangan, investasi, budaya, pariwisata, dan ekonomi kreatif Sumatera Utara.

‎Dengan pengelolaan yang semakin profesional dan berkelanjutan, PRSU diharapkan mampu memperluas akses promosi produk unggulan daerah, serta memperkuat posisi ekonomi kreatif sebagai salah satu pilar pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara.

Ego Sektoral

‎Sementara, Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Muhammad Bobby Afif Nasution mengatakan PRSU tahun 2026 merupakan penyelenggaraan pertama dan momentum kebangkitan serta wadah potensi sumber daya manusia (SDM), budaya, dan ekonomi kreatif Sumatera Utara setelah pandemi Covid-19.

‎Tak hanya itu, Bobby juga mengingatkan pemerintah kabupaten/kota di Sumut agar mengesampingkan ego sektoral. Pasalnya, masih ada daerah yang belum memanfaatkan potensi kerajinan daerah masing-masing. Padahal, keberhasilan PRSU bukan hanya milik Pemprov Sumut, tetapi seluruh masyarakat Sumatera Utara.

‎Selanjutnya Ketua Tim Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VII DPR RI Evita Nursanty menilai usia emas PRSU perlu ditransformasikan menjadi ajang lebih profesional dan bermanfaat nyata bagi masyarakat.

‎”Saya melihat ada semangat besar untuk menjadikan PRSU tidak sekadar ajang hiburan, tetapi ruang ekonomi dan sosial. PRSU harus menjadi etalase budaya, UMKM, ekonomi kreatif, sekaligus media promosi pariwisata dan potensi daerah,” ujarnya.

‎Evita mendorong PRSU memiliki grand design pengembangan lima hingga 10 tahun ke depan agar menjadi pusat pameran, perdagangan (trade fair), seni, budaya, dan ekonomi kreatif yang mampu menarik wisatawan, pembeli, hingga investor dari dalam maupun luar negeri.

‎”Ke depan PRSU harus berkembang menjadi pusat pameran, perdagangan, seni, budaya, dan ekonomi kreatif yang mampu menarik pembeli maupun investor dari luar negeri. Butuh kolaborasi semua pihak, dan tidak mungkin sendiri-sendiri,” katanya.

‎Direktur Utama PT Pembangunan Prasarana Sumatera Utara (PPSU), Fery Indrawan, mengatakan penyelenggaraan PRSU ke-50 tanpa menggunakan APBD, melainkan skema kemitraan.

‎”Sebanyak 75% konten acara diisi oleh putra-putri daerah sebagai bentuk komitmen menjadikan PRSU sebagai panggung utama bagi pelaku seni, budaya, dan ekonomi kreatif lokal,” ujarnya.

‎Fery menjelaskan, pihaknya terus melakukan transformasi dengan memperhatikan harga tiket masuk, kualitas pelayanan, pengelolaan parkir, hingga aspek kenyamanan pengunjung.

‎Hingga hari keenam, jumlah pengunjung tercatat mencapai 25.447 orang dengan nilai transaksi ekonomi lebih dari Rp511 juta sebagai bukti perputaran ekonomi.(OM-09)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *