Dampak Erupsi Sinabung Petani Karo Merugi Hingga Rp41,8 M

oleh -194 views

TANAH KARO – Dampak erupsi Gunung Sinabung yang terjadi selama tiga hari terakhir ini disertai penyebaran matrial debu vulkanic panas, menyebabkan petani di Kecamatan Naman Teran, Merdeka, Berastagi dan Kecamatan Dolat Rayat mengalami kerugian sebesar RP 41,8 Miliar lebih, akibat kerusakan tanaman pertanian seluas 1,483 Ha.

Data kerugian ini diketahui berdasarkan laporan kerugian sektor pertanian dampak erupsi Gunung Sinabung 2020 dan data laporan kerusakan pertanaman tersampak erupsi Gunung Sinabung sebanyak 23 jenis tanaman hortikultura pertanggal 8 Agustus 2020 dari Dinas Pertanian Kabupaten Karo.

Hal dikatakan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Karo, Ir. Metehsa Purba, Selasa (11/8/2020) saat meninjau lahan pertanian yang terdampak erupsi Gunung Sinabung di perladangan Sukatepu Kecamatan Naman Teran.

Menurut Metehsa, hasil pendataan petugas pertanian di lapangan, ada 23 jenis komuditi pertanian yang mengalami kerusakan level ringan, sedang dan berat. Dinas Pertanian Kabupaten Karo merekomendasikan penggunaan blower untuk menyingkirkan debu yang melekat pada daun-daun dan batang tanaman”Selanjutnya dilakukan penyiraman dengan air bersih dan penyemprotan fungisida dan zat daun agar tunas muda muncul kembali agar tidak terhalang proses fotosintesis,” ujarnya.

Sementara Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provsu Ir H Dahler Lubis MMA menyebutkan, sebagai tahap awal bantuan yang disalurkan dari Provinsi Sumut adalah blower dan fungisida, secepatnya akan di kirim ke Karo.

Kemudian, kita akan menginventarisir kebutuhan petani paska erupsi terutama yang paling mendesak. Dinas Pertanian Provinsi sudah programkan di musim Covid-19 ada tanaman jagung, tetapi tanaman jagung tak kena di sini. Tomat dan Cabai juga ada. Tetapi yang jelas, dalam meringankan beban petani Karo, kita akan ada di sana. Tetapi yang tertutama kita berharap turun hujan untuk membersihkan tanaman petani, “ jelasnya.

Kepala BPBD Provinsi H Riadil Akhir Lubis Msi menyebutkan, peristiwa ini kategori bencana alam maka yang terutama adalah penyelamatan manusia. Petani Karo dalam hal ini harus mengikuti protokol kesehatan berupa penggunaan masker dan perlindungan mata, supaya terbebas dari penyakit Ispa.
Menyikapi erupsi, salah seorang petani dari Desa Sukatepu menyebutkan, pengalamannya selma bertanam kentang sejak 2010, 2013 hingga 2020, tanaman kentang yang terdampak paparan material debu vulkanik masih bisa diselamatakan dengan perlakuakn khusus, tetapi biayanya cukup lumayan tinggi,” ujarnya.

Reporter : Daniel Manik