“NU dan Alwashliyah jika bersanding dalam beberapa hal, Insya Allah problematika di Sumut ini akan selesai. Saya pernah membaca bahwa tahun 1930-an itu, Alwashliyah dan NU dipimpin oleh kakak-adik bermarga Lubis. Nah, rasa kedekatan itu yang harus tetap terjaga,” lanjutnya
Ditengah mewabahnya covid-19, AJD mengungkapkan ada beberapa hal yang menjadi perhatiannya dalam penanganan covid-19 ini. Menurutnya pemanfaatan masjid yang terbuka selama 24 jam bisa sangat efektif dijadikan sebagai pusat komando lapangan penanganan Covid-19.
“Pemerintah saat ini telah berbuat banyak, menurut ukuran saya sudah maksimal. Ketika Covid mendunia, masing-masing negara memiliki cara dan metodologi masing-masing dalam menangani wabah ini. Jika belum selesai sampai hari ini, kita tidak boleh menyalahkan pemerintah, karena memang ini peristiwa baru sehingga referensi penyelesaian pun masih sangat minim, ” jelasnya
Selanjutnya menurut AJD, tidak terlibatnya masyarakat dalam penyelesaian covid ini secara masif merupakan langkah yang keliru. Semestinya, mesjid dijadikan pusat komando dalam menyelesaikan masalah covid-19.
“Mesjid itu lengkap sekali, ada pelataran yg bisa dijadikan tempat berolahraga, ada MCK, ada takmir mesjid yang jumlahnya tidak kurang dari 20 orang yang amanah dan berwibawa, yang perintahnya ditaati oleh ummat,” Jelasnya
“Ada 820 ribu mesjid dan mushola di Indonesia, jika digabung dengan rumah ibadah lainnya maka berjumlah 1 juta. Artinya, 1 rumah ibadah itu menangani 270 orang dengan rentang kendali yang sangat singkat, ” Tambahnya
“Ayo bangun gerakan masif masyarakat, jangan gerakan gugus saja. Kita tidak boleh membiarkan pemerintah repot sendiri. Karena mesjid itu penyelesaian masalah, bukan sumber masalah,” pungkasnya.
Reporter : Ilham Siregar
.







