MEDAN | Kenaikan harga bahan kebutuhan sehari hari membuat pedagang makanan di Kota Medan semakin terjepit. Salah satu contoh naiknya Harga cabai yang kini mencapai Rp88.000 per kilogram dan bahan lainnya ikut naik membuat biaya belanja harian kian berat.
Seperti diungkapkan Bang Puna, pemilik warung Mie Aceh Poenna di Jalan Karya Wisata, Kecamatan Medan Johor, mengaku kondisi tersebut berimbas langsung pada pendapatannya. Omset yang sebelumnya bisa menutup sekitar 80 persen kebutuhan kini hanya bertahan di angka 60 persen.
Meski terhimpit, Bang Puna enggan menaikkan harga menu karena takut pelanggan beralih ke tempat lain. Sebagai jalan keluar, ia mengurangi sedikit porsi makanan, namun tetap menjaga kualitas bahan agar cita rasa mi Aceh tidak berubah.
“Paling terasa itu di minyak sama cabai, Dek. Minyak goreng kadang naiknya bikin kaget. Cabai juga sering main harga,” katanya di Gerai Mie Aceh Poenna Medan Johor, Senin (29/9/25).
Ia menambahkan, strategi lain yang dilakukan adalah menyimpan bahan-bahan segar di freezer untuk menekan pemborosan. Namun jika harga terus merangkak naik, ia khawatir warungnya tidak akan bertahan lama.
Harapannya sederhana, agar pemerintah segera menstabilkan harga, terutama cabai, minyak goreng, dan bawang. Tiga bahan ini dianggap sangat vital untuk menjalankan usaha kuliner, terlebih mi Aceh yang identik dengan rasa pedas.
“Mi Aceh ini kan kalau enggak pedas tak ada rasa, anyep, gitu kan. Samalah kayak minyak goreng. Kalau enggak ada minyak goreng, mana bisa gorenglah warung-warung ini semua,” ujarnya.
Dengan harga cabai yang masih melambung, Bang Puna hanya bisa berharap harga kembali normal di kisaran Rp40.000–Rp50.000 per kilogram agar pedagang kecil tetap bisa bertahan tanpa harus mengorbankan rasa dan kepercayaan pelanggan.
Reporter : Eyme Nanda







