ACEH SELATAN | Kepala Kantor (Kakan) Kementerian Agama (Kemenag) Aceh Selatan, Khairul Huda S.HI menjelaskan perkembangan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan pemerintah untuk madrasah dan pesantren di Kabupaten Aceh Selatan hendaknya dapat dibagi secara merata.
Karena hingga saat ini, baru 38 dari total 78 madrasah negeri maupun swasta yang telah menerima manfaat program ini, mulai dari jenjang Raudhatul Athfal (RA), Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) dan Swasta (MIS), Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) dan Swasta (MTsS), hingga Madrasah Aliyah Negeri (MAN) dan Swasta (MAS).
Kakan Kemenag Aceh Selatan Khairul Huda mengatakan, keterlibatan Kemenag dalam program ini murni sebagai penerima manfaat, bukan pelaksana teknis.
“Kami hanya penerima manfaat. Alhamdulillah sampai hari ini belum ada laporan negatif terkait distribusi MBG dari madrasah maupun pesantren,” ucapnya dengan nada syukur saat dikonfirmasi Orbitdigital, Selasa (23/09/2025).
Menurutnya, semangat anak-anak untuk mengikuti program ini sangat tinggi. Bahkan, kondisi di lapangan menunjukkan peserta didik semakin termotivasi.
“Saya lihat langsung, anak-anak sangat bersemangat saat MBG itu datang kesekolah sekolah.
Dan Kabupaten Aceh Selatan jauh berbeda dengan pemberitaan di daerah lain, sampai sekarang di Aceh Selatan belum ada kasus keracunan atau makanan tidak layak,” ungkapnya Khairul Huda.
Khairul Huda menambahkan, program MBG bukan hanya dibutuhkan di madrasah formal, tetapi juga penting untuk pondok- Pondok pesantren, khususnya yang memiliki pendidikan setingkat sekolah formal.
“Lanjutnya dan di pondok pondok pesantren seperti Darussalam Labuhan Haji, ada pendidikan muadalah setingkat SMP/MTs itu para santri santriwan disana wajar untuk mendapat MBG.ucapnya.
Kami berharap program MBG juga bisa menyentuh pondok-pondok semacam ini agar pemerataannya lebih adil,” ucapnya.
Selain itu, Khairul Huda menyoroti pentingnya penyesuaian waktu makan dengan kultur lokal.
“Kalau bisa jam makan anak-anak diatur sesuai kebiasaan, misalnya jam 12 siang sebelum salat Dhuhur.
Jadi tidak hanya memberi asupan bergizi, tetapi juga menjaga ritme belajar mereka,” sambungnya.
Khairul Huda dalam kesempatan itu juga menegaskan, meski belum semua madrasah mendapat jatah MBG, program ini terbukti membantu meringankan beban orang tua para siswa siswi dan santri santriwan baik yang disekolah maupun yang ada di pondok pondok pesantren sekaligus meningkatkan motivasi belajar siswa.
“Kami sangat berharap ke depan seluruh madrasah dan pesantren, baik negeri maupun swasta, bisa terlayani.
Karena sambungnya,ini bukan sekadar program makan, tetapi juga investasi untuk kualitas generasi penerus bangsa,”pungkasnya.
YUNARDI.M.IS







