Kendala Biaya, Bayi Penderita Astresia Biller Asal Langkat Butuh Perhatian Dermawan

Wilda Allea Ginting (8 bulan) diduga mengidap penyakit (Astresia Biller) didampingi ibunya saat dirawat di rumah sakit beberapa waktu lalu. (Foto/Ist)

MEDAN – Pasangan suami – istri, Yohanes Fernando Ginting (25) dan Ayu Ningtias Sembiring berharap uluran tangan para dermawan maupun pihak pemerintah untuk dapat meringankan biaya pengobatan Wilda Allea Ginting (8 Bulan).

Pasalnya, menurut diagnosa dokter, Wilda Allea Ginting diduga mengidap penyakit (Astresia Biller) dimana kondisi tubuh menguning, perut membesar dan susah buang air kecil.

Meski sudah bolak-balik masuk rumah sakit namun penyakit yang dialami Wilda Allea Ginting tak kunjung sembuh hingga kini berumur 8 bulan padahal segala upaya telah dilakukan orangtuanya.

Selain kondisi kesehatan Wilda Allea Ginting, anak kedua dari dua bersaudara itu cukup memprihatinkan. Apalagi kondisi ekonomi keluarga juga tergolong kurang mampu, hanya sekelas buruh serabutan di Desa Bandar Kasih Namo Terasi Kabupaten Langkat – Sumatera Utara.

Ayu Ningtias Sembiring kepada orbitdigitaldaily.com, Senin(9/5/2022) mengatakan Wilda Allea Ginting sebelumnya dilarikan ke RS Artha Medica Binjai karena mengalami kejang – kejang dan muntah meski tidak demam.

“Saat berumur 1,5 bulan tiba – tiba kejang tanpa demam. Selama dirawat 4 hari di ruang ICU RS Artha Medica sudah di USG dan tes darah tapi belum ada penanganan yang lebih serius selain pemberian obat saja” kata Ayu Ningtias.

Ayu Ningtias menuturkan kisah selama pengobatan Wilda, banyak liku perjuangan, cukup getir. Apalagi gubuk mereka tempati masih kontrak, belum lagi kesulitan soal biaya perobatan ditanggung pribadi.

“Awalnya ada BPJS tetapi saat digunakan tidak aktif. Kadang harus minjam sana – sini sama keluarga. Kemudian, sekitar 2 bulan lalu, terpaksa kami larikan ke RSUP Adam Malik karena sempat muntah dan BAB bercampur darah”ujar Ayu Ningtias sembari mengaku kehabisan akal soal biaya selanjutnya.

Mirisnya, lanjut ibu dua anak itu menyebut 4 hari rawat inap di RSUP Adam Malik, tepatnya tanggal 30 Maret 2022 lalu, BPJS masih aktif namun selang beberapa heri kemudian, 1 April 2022 tidak bisa digunakan lagi.

Menurutnya, alasan pihak BPJS maupun Dinas Sosial Kabupaten Langkat kurang masuk akal. Selayaknya Pemda Langkat peduli terhadap kesehatan warganya.

“Alasan mereka kurang masuk akal. Mereka bilang tak bisa di kembalikan ke BPJS pemerintah karena saya terlambat datang ke BPJS untuk masukkan data. Yang ke dua, masalahnya data anak saya tercatat di kartu keluarga (KK) tetapi tidak bisa online” kesalnya.