Selanjutnya kata dia persiapan lahan bekas padi sawah atau bekas tebu : Beda dengan lebar 1.2-1.5 m, Kedalaman parit 50-60 cm mengikuti arah Timur-Barat, Tanah yang diolah dibiarkan sampai kering kemudian diolah lagi 2-3 kali, Lahan tegalan atau lahan kering, Tanah dibajak atau dicangkul sedalam 30 cm, Lebar bedengan 1-1.2 m, tinggi 40 cm dan panjang tergantung pada kondisi lahan, Lahan dengan pH kurang dari 5.6 diberi dolomit minimal 2 minggu sebelum tanam, dosis 1-1.5 ton/ha/tahun,” jelasnya.
Selain itu ia juga menjelaskan cara penanaman yang baik.
“Pertumbuhan tunas dalam umbi 80%, Pupuk dasar 300 kg SP-36/ha, 60 kg KCL/ha dan 500 kg NPK disebar serta diaduk rata dengan tanah, 7 H sebelum T,” katanya.
Dijelaskanya pengendalian HPT Ulat daun bawang (Spodoptera exigua), rotasi tanaman, waktu tanam serempak, atau dengan pengendalian secara kimiawi. Ulat Tanah (Agrotis ipsilon), dilakukan secara manual yakni dengan mengumpulkan ulat-ulat pada sore/ senja hari diantara pertanaman serta menjaga kebersihan areal tanaman. Trips (Trips tabaci Lind), mengatur waktu tanam yang tepat atau secara kimiawi. Bercak ungu atau trotol (Alternaria porrl), rotasi tanaman, melakukan penyemprotan setelah hujan dan pengendalian secara kimiawi.
Bahkan Ia juga menjelaskan cara panen dan Pasca Panen Tanaman Bawang Merah.
“Dalam pemanenan beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain waktu atau umur panen serta cara pemanenan. Bawang merah yang ditanam pada dataran tinggi umumnya mempunyai umur panen lebih panjang yaitu umur 75-100 hari, sedangkan didataran rendah dapat dipanen pada umur 60-90 hari,” pungkas.
Sementara Ketua Kelompok Tani Sinar Jaya Desa Ria-Ria Kecamatan Pollung, Kabupaten Humbahas, Tomlin Pandiangan sangat mengapresiasi dengan digelarnya kegiatan penyuluhan pertanian kepada masyarakat humbahas khususnya kelompok tani sinar jaya.
“Kami mengucapkan terimakasih kepada LPPM USU yang mau bekerjasama dengan kelompok tani sinar jaya sehingga para petani semakin teredukasi dalam pertanian,” ujar Tomlin. (Rel)







