Dr Muryanto Amin melalui riset yang dilakukannya sejak 2018, 2019, 2020 dengan dana hibah DRPM Kemendikbud saat ini tengah merancang sebuah aplikasi yang bisa diakses oleh siswa SD, SMP, SMA, tentang materi kebangsaan dan pemahaman moderasi agama. Saat ini ia juga sedang meneliti riset konten yang dilakukan untuk meningkatkan paham kebangsaan.
Menurutnya, fenomena radikalisme dan terorisme ini meningkat tajam setelah diadakannya pilpres dan pilkada. Kenyataan ini tentu menjadi satu bahan penting yang harus dicermati bersama oleh berbagai pihak, karena alau dulu hanya tentang transaksi politik dan uang, sekarang sudah bertambah menjadi isu identitas agama (religion identity).
“Religion identity ini terbentuk atas tiga hal, yakni teologi pembebasan, jaringan kritik dan sistem nilai. Teologi pembebasan sesungguhnya ada dalam setiap agama yang dipahami sebagai ajaran profetik, yaitu peran agama dalam membangun sistem dan nilai baru. Konsekuensinya agama menjadi media sosialisasi yang sangat penting dalam membina kerangka sosial masyarakat,” katanya.
Sementara jaringan kritis yang dimaksud adalah jaringan yang mengelola kelompok beserta tindakan yang dilakukan, termasuk juga upaya untuk menarik orang lain dan memberikan saran politik agar menjadi anggota dan ikut dalam aktivitas kelompok serta melakukan politisasi di dalam anggota kelompok.
Sistem nilai sendiri menyangkut kepentingan individu, orientasi dan identitas yang merupakan aspek penting untuk melihat kecenderungan partisipasi politik selain posisi sosial-struktural. Beragam perilaku yang muncul tidak hanya tergantung dari input berupa faktor eksternal, tetapi dipengaruhi oleh dinamika pribadi dan posisi sosial struktural akan selalu mengalami masalah karena mengabaikan dinamika internal individu seperti nilai, kepercayaan dan sikap.
“Meningkatnya aktivisme dan radikalisme agama dalam politik lokal di Indonesia, tidak hanya di Jakarta, sejak 10 tahun terakhir menjadi fenomena baru yang sangat perlu dianalisis dari deskripsi organisasi agama dan jaringannya,” kata Dr Mury.







