Soal Pekerja PT. PSU, Pengamat : Pj Gubsu Jangan Beretorika

Dr Ismed Batubara

MEDAN | Kondisi PT Perkebunan Sumatera Utara (PSU) disinyalir sudah ‘rungkad’ lantaran finansial perusahaan tidak mampu membayarkan gaji/upah ratusan karyawan selama tiga bulan belakangan ini.

Ironinya, mulai Penjabat Gubernur Hassanudin, Kepala Biro Perekonomian Poppy Hutagalung, Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Juliadi Zurdani Harahap, hingga Asisten Administrasi Umum Lies Handayani sebagai Pelaksana Tugas Direktur Utama, tak sedikit pun mampu memberikan solusi ‘perut-perut’ lapar di PT. PSU.

Soal sengkarut pembayaran gaji/upah bagi serikat pekerja PT. PSU, Pemerhati Sosial di Sumut, Dr Ismed Batubara menawarkan sejumlah solusi.

Kata dia, baru-baru ini Pj Gubernur Hassanudin mengeluarkan keputusan lewat SK Gubernur Sumut No.188.44/111/KPTS/2024 tentang Besaran Tambahan Penghasilan Bagi Pegawai Negeri Sipil dan Calon Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara.

Harus Arif

Dalam struktur TPP terbaru itu, nilai yang diterima pejabat Pemprovsu mulai dari sekretaris daerah, asisten, staf ahli gubernur, eselon II, eselon III, fungsional penyertaan hingga fungsional, naik lumayan signifikan.

Misal, Sekdaprovsu perbulannya bakal menerima Rp125 juta, asisten Rp54 juta, staf ahli Gubsu Rp47.700.000, dan inspektur Inspektorat/setara eselon II Rp77 juta.

Adapun pejabat eselon II nilai TPP yang mereka terima tergolong variatif. Antara range Rp40 juta-an hingga Rp50 juta-an. Begitupun yang mengemban amanah jabatan eselon III, bahkan nonstruktural seperti fungsional penyertaan dan fungsional biasa.

Variasi nilai TPP ini, bergantung pada beberapa indikator antara lain kelas jabatan, beban kerja, prestasi kerja, kondisi kerja, tempat bertugas, dan kelangkaan profesi.

“Artinya luar biasa dana APBD Sumut ke depan bagi seluruh pejabat pemprov, dalam hal membayar TPP saja. Anomalinya kemudian, ada ratusan orang yang bergantung hidup dan perlu makan dari Pemprovsu lewat PT. PSU, namun tidak dibayarkan hak mereka selama tiga bulan,” kata mantan ASN Pemkab Langkat dan Pemko Medan ini.

“Jadi saran saya, salah satu solusi mengatasi masalah ini adalah dengan urunan saja semua pejabat Pemprovsu melalui TPP mereka untuk membayarkan gaji seluruh pekerja PT. PSU. Tak hanya upah, Tunjangan Hari Raya mereka saya rasa bisa dibayarkan juga dari hasil itu,” ujarnya.

Lulusan doktor ilmu hukum di Universitas Sultan Agung Semarang ini tak lupa mengingatkan, terkhusus pada Pj Gubernur Hassanudin, untuk bertindak arif dan bijaksana dalam memutuskan masalah tersebut.

“Pak Pj Gubernur ingat, Anda cuma sekitar setahun menjabat. Tinggalkanlah kesan yang baik kepada rakyat Sumut nantinya. Didengarkan aspirasi teman-teman pekerja PT. PSU itu. Ini menyangkut urusan perut, hajat hidup rakyat bapak. Apalagi bapak pernah bilang fakir miskin saja akan bapak urus, apalagi cuma pekerja PT. PSU. Buktikan saja bukan cuma pandai beretorika,” ucap Dr Ismed Batubara kepada wartawan.

Diintip Kejaksaan

Upaya konkret lainnya, menurut Ismed, bisa saja dengan cara menyuntikkan pernyataan modal ke PT. PSU. Pj Gubernur sebagai pemilik saham mayoritas, ujar dia, sangat berwenang dalam akselerasi ini.

“Akan tetapi diikuti dengan pengawasan yang terus dilakukan. Sebelum itu, dibutuhkan komitmen jajaran direksi dalam penggunaan dana segar tersebut. Jangan sampai pula jadi ladang korupsi baru bagi pejabat di PT. PSU,” katanya.

Kemudian ia turut menyoroti ihwal informasi pembelian aset berupa tanah milik PT. PSU yang disampaikan pekerja kepada media. Tanah yang berada di Kabupaten Batu Bara itu dibeli oleh investor untuk pembangunan jalan tol Trans Sumatera.

“Kabarnya lagi Rp10 M atau Rp50 M gitu nilai ganti ruginya, masak untuk membayarkan semua gaji pekerjanya PT. PSU gak mampu. Ya manfaatkan aja maunya uang dari situ, kan bisa. Tapi mungkin karena gak punya kemauan, makanya pemprov dan PT. PSU banyak berdalih sana sini,” katanya.

Informasi yang diperoleh wartawan, atas pembelian tanah atau ganti rugi tersebut, pihak Kejaksaan Tinggi Sumut tengah memonitor para pejabat tinggi Pemprovsu hingga jajaran direksi dan komisaris PT. PSU.

“Cocok itu. Kita sebagai rakyat mendukung dan mendorong supaya Kejatisu mengusut bila benar ada terjadi pelanggaran hukum atas pembelian tanah tersebut. Bila perlu disikat habis semua yang terlibat sehingga membuat kolaps keuangan PT. PSU sampai membiarkan para pekerjanya kelaparan berbulan-bulan,” pungkas dosen yang mengampu di salah satu universitas swasta di Kota Medan ini. (Rel)

Reporter, Toni Hutagalung