Tidak Mampu Menjinakkan Lahar Dingin, Sabo Dam Sinabung Senilai Rp 280 Milyar Dinilai Mubajir

oleh -198 views
Bongkahan batu besar yang terbawa arus lahar dingin Sinabung disaluran sabo dam yang dinilai mubajir.ORBIT/Ist.

KARO (orbitdigital): Proyek pembangunan Sabo Dam Pengendalian Lahar Gunung Sinabung senilai Rp280 Miliar, di Desa Perbaji Kecamatan Tiganderket, lingkar Sinabung, Kabupaten Karo, menuai kritikan dari warga dan relawan Sinabung.

Bahkan, proyek besar yang ditangani Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU PR) melalui Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWSS) II, yang dikerjakan PT PP dan PT Brantas diminta tidak dilanjutkan, karena tidak akan dapat berfungsi secara maksimal. Pasalnya tiga sekat-sekat sabo dam gampang tersumbat material lahar Sinabung.

Hal itu diungkapkan Plt Kepala Desa Perbaji Kecamatan Tiganderket, Kristian Peranginangin yang juga Sekretaris desa dan relawan sosial Gunung Sinabung didampingi Dedi Fernando Ginting dan sejumlah warga, Minggu (14/7/2019) di Desa Perbaji.

Menurut Kristian Peranginangin dan Dedi Fernando Ginting, satu tahun yang lalu, saat pembangunan sedang berlangsung, pihaknya sudah beberapa kali mengingatkan disain atau model bangunan sabo dam dengan anggaran cukup besar bila dipaksakan dilanjutkan akan percuma.

Terbukti, sudah beberapa kali banjir lahar, sabo dam tidak mampu sebagai pengendali, justru memberi ancaman baru dengan melubernya lahar dingin akibat tersumbat, sehingga menyebar ke pemukiman dan areal pertanian penduduk.

“Seharusnya ahli-ahli kita dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWSS) II paham karakter Gunung Sinabung termasuk bagaimana material laharan Sinabung beda jauh dengan laharan di Jepang,” ungkap Kristian.

“Mungkin disana (Jepang-red) banjir lahar tidak disertai bongkahan kayu maupun batu-batu besar, bisa saja hanya pasir dan lumpur. Bahkan akibat tiga sekat-sekat sabo dam tersumbat, lahar dingin meluber ke kawasan pemukiman penduduk maupun kawasan pertanian warga,” kecamnya.

“Buktinya sudah beberapa kali terjadi banjir lahar dingin Sinabung, sabo dam belum mampu memberi solusi “menjinakkan” laharan. Ini fakta, tapi kenapa mesti Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat melalui Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWSS) II, PT PP dan PT Brantas tetap ngotot melanjutkan pembangunan sabo dam,” lontarn Kristian dan Dedi Fernando..

Seharusnya, sambung Dedi Fernando Ginting yang sejak bencana Sinabung tahun 2010 hingga sekarang selalu aktif sebagai relawan sosial Sinabung, kembali mengingatkan bahwa, sabo dam harusnya berfungsi untuk mengarahkan dan memperlambat aliran material di sungai serta pengarah atau pengendali aliran ganas lahar dingin untuk mencegah penyebaran, dan membatasi terjadinya aliran lahar atau bahaya sekunder gunung api.

Bahkan kata Dedi lagi, ada sebuah sabo dam yang posisinya berada diatas desa Perbaji, sangat rawan sekali bila sewaktu-waktu tersumbat, maka bencana besar akan menimpa pemukiman warga. “Masyarakat desa Perbaji sedang dihantui ketakutan bila sewaktu-waktu sabo dam yang posisinya diatas kampung tersumbat, maka dipastikan luberan laharan akan menghantam desa mereka, apalagi bila kejadiannya malam hari.

Diperoleh informasi, banjir lahar dingin Gunung Sinabung menerjang Desa Kutambaru, Kecamatan Tiganderket, Kabupaten Karo, Rabu (10/7) pukul 20.15 WIB. Peristiwa yang terjadi saat malam hari itu membuat warga panik dan berupaya menyelamatkan diri.

Pantauan wartawan, Minggu (14/7) selain menerjang rumah warga, material lumpur yang cukup tebal juga menggenangi jalan desa sehingga proses evakuasi berjalan cukup dramatis, mengingat saat kejadian itu di tengah kegelapan malam.

Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karo, Martin Sitepu melalui Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, Natanail Perangin-angin mengaku berdasarkan pendataan tim di lapangan, terdapat 4 unit rumah warga dan 1 Puskesmas yang terendam banjir lahar dingin. Sekarang semuanya sudah mulai dibersihkan dari material laharan.

Rumah warga dan Puskesmas yang terendam lahar dingin berada di Desa Kutambaru, Kecamatan Tiganderket. Rumah itu milik Johanes Sembiring, Jaka Surbakti, Juhen Sembiring, dan Masliani Br Barus. Dikabarkan juga akses jalan menuju desa Perbaji juga sempat terputus. Demikian juga akses utama menuju Desa Kutambaru, dan jalan penghubung antara Tiganderket menuju Kutabuluh dan sebaliknya sempat terganggu sebelum dilakukan pembersihan material laharan yang menimbun/menumpuk badan jalan.

Sekedar mengingatkan, dua paket proyek pengendali banjir lahar dingin Sinabung (Sabo Dam) mencapai Rp280 miliar (dua paket) dengan rincian, masing-masing memiliki nilai kontrak Rp170,92 miliar dan Rp111,18 miliar. Pembangunan tersebut terdiri dari berbagai jenis, yakni Sabo Dam Konsolidasi (DK), Sabodam Dam Konsolidasi Oprit (DKO), Sabodam Dam Pengendali Sedimen (DPS) dan Sabo Dam Konsolidasi Irigasi. Od-23.