MEDAN | Tanggal 17 Oktober diperingati sebagai Hari Ulos Nasional bertepatan juga dengan hari Kesadaran nasional
Karena tanggal tersebut, resmi ditetapkan sebagai salah satu warisan budaya tak benda Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pada tahun 2014. Setahun kemudian, 17 Oktober ditetapkan menjadi Hari Ulos Nasional. Sabtu (18/10/2025).
Ulos merupakan kain tenun tradisional khas suku Batak, Hari ulos menjadi hari bersejarah bagi masyarakat Batak.
Setiap menyambut Hari Ulos Nasional, masyarakat di perkantoran instansi swasta maupun pemerintahan memakai baju bermotif kain ulos di sebagian kabupaten kota Provinsi Sumatera Utara.
Ulos merupakan warisan budaya nasional Indonesia yang terus dijaga kelestariannya melalui berbagai upaya, termasuk pelatihan menenun, partisipasi dalam acara budaya, dan adaptasi desain untuk tetap relevan. Ulos kerajinan tenun tradisional Batak menjadi sebuah karya yang sudah ada sejak ratusan lalu, bahkan sebelum bangsa Eropa mengenal tekstil.
Sampai sekarang, ulos selalu digunakan dalam berbagai upacara adat Batak seperti kelahiran pernikahan hingga kematian. Di daerah Danau Toba, ulos dianggap sebagai simbol adat yang mengandung nilai sakral dan tradisi yang masih dijaga dengan kuat.
Kain ulos kerajinan tenun tradisional suku Batak yang dikembangkan secara turun-temurun, daerah penghasil utama ulos seperti Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, Simalungun, dan Tanah Karo.
Kain tenun Ulos adalah kain tradisional khas suku Batak yang memiliki nilai budaya tinggi. Dibuat dengan teknik tenun manual, Ulos juga sering digunakan diberbagai kegiatan seperti pernikahan, dan pemberian simbol penghormatan. Dengan motifnya yang beragam, masing-masing melambangkan makna khusus, seperti keberanian, kebijaksanaan, atau doa untuk kebahagiaan. Warna-warna khasnya, seperti merah, hitam, dan putih, memiliki filosofi mendalam dalam kehidupan masyarakat Batak.
Berbagai macam jenis ulos berdasarkan fungsi kegunaannya
- Ulos Ragidup : Melambangkan kehidupan dan restu, sering digunakan dalam berbagai acara adat.
– Ulos Ragi hotang diberikan saat pernikahan melambangkan harapan agar pengantin bisa saling menyayangi dan memiliki ikatan batin yang kuat. - Ulos Sibolang Rasta Pamontari: Digunakan sebagai ulos duka, terutama untuk orang dewasa yang meninggal tetapi belum punya cucu, atau untuk janda/duda.
- Ulos Bintang Maratur: Digunakan dalam acara sukacita, melambangkan harapan yang terang dan terarah.
Ulos Mangiring: Diberikan kepada anak yang baru lahir, terutama anak pertama.
Ulos Antak-Antak: Dipakai sebagai selendang saat melayat atau dalam acara adat.
Ulos Ragi Huting: Dulunya dipakai oleh gadis perawan sebagai tanda atau penanda, dililitkan di bagian dada.
Ulos Pinuncaan: Terdiri dari lima bagian kain yang disatukan, sering digunakan oleh raja adat.
Ulos Sadum: Didominasi warna merah dengan motif bunga penuh, menyimbolkan suka cita.
Ulos Holong: Diterima atau diberikan oleh para tamu undangan saat upacara pernikahan.
Ulos Bolean: Dipakai sebagai selendang untuk melengkapi baju adat.
Penulis : Iwan Gunadi







