Penanganan kasus stunting atau gangguan pertumbuhan fisik dan otak pada anak karena kurangnya asupan gizi dalam waktu lama ini, digalakan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Dukungan tersebut terwujud dalam program Kampus Siaga dan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) yang bekerja sama dengan Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) dan Asosiasi Institusi Pendidikan Tinggi Bidang GIZI (AIPGI).
Program tersebut bertujuan menggerakkan perguruan tinggi sehingga mendorong mahasiswa dalam 8 aktivitas Kampus Merdeka yang dilakukan di luar kampus demi membantu penanganan stunting.
“Melalui program Merdeka Belajar Kampus Merdeka, memberikan peluang bagi mahasiswa kesehatan untuk dapat membantu menyelesaikan permasalahan mengenai stunting. Mahasiswa selama satu semester dapat mendampingi kasus stunting namun harus dilakukan diseminasi dan pengarahan oleh dosen sebelum langsung terjun ke lapangan,” pungkasnya.
Sementara Ketua Tim Hibah Matching Fund Kedaireka-BKKBN Sumatera Utara, Dr dr Juliandi Harahap MA mengatakan pihaknya akan melakukan kegiatan di sepuluh Desa lokus stunting.
Dengan melakukan riset dan pemeriksaan status gizi, intervensi gizi, pendampingan berupa edukasi, pembagian poster dan pengenalan aplikasi berhubungan dengan tumbuh kembang.
Serta melakukan pelatihan kader kader dalam hal pemanfaatan bahan pangan lokal, dilanjut dengan evaluasi terhadap pemahaman pengetahuan dan status gizi pada anak setelah dua (2) bulan pelaksanaan.
Turut hadir pada giat tersebut; Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Utara Mhd Irzal SE ME, Kepala Dinas PPKB dan PPA dr Sadikun Winato, PIC dan Dosen Pendamping Lapangan dr Eka Febriyanti M Gizi dan Dr Siti Hajar SSos MSP, serta para undangan, para perwakilan kecamatan dan desa lotus.
Reporter : Susanto







