Medan  

New Equilibrium, Cara yang Bisa Ditempuh Media Cetak di Era Digital

Workshop Jurnaslistik Depth News Era Digital di Grand Antares Medan

MEDAN | Tumbuhnya media sosial di era digital saat ini membuat bisnis persurat kabaran terutama cetak, menjadi semakin terpinggirkan. Pertumbuhan media sosial yang selalu siap memberikan informasi berbagai hal kepada masyarakat, membuat pembaca media cetak mengalihkan pandangan.

Padahal berbagai informasi yang diberikan oleh media sosial tersebut bukanlah bentuk sesungguhnya dari sebuah berita, karena penyajiannya tidak memiliki kekuatan secara intlektual dan terstruktur, sehingga informasinya bisa disebut mengesampingkan aspek sosial sehingga sering hoak dan tidak memiliki pondasi hukum.

Demikian sebagian inti yang bisa diambil dari Workshop Jurnalistik Depth News Era Digital yang diselenggarakan PWI Sumut bekerjasama dengan Serikat Perusahaan Pers (SPS) Sumatera Utara, Sabtu (21/10/2023) di Hotel Grand Antares Medan.

Acara tersebut dibuka oleh Pj Gubernur Sumatera Utara Hassanudin dengan menghadirkan pembicara masing masing Januar P Ruswita (Ketua SPS Pusat), Agus Sudibyo dari Dewan Pers dan Nurhalim Tanjung praktisi di bidang pers sekaligus pengajar.

Workshop diikuti para pelaku pers seperti pengelola media maupun para jurnalis di Medan maupun luar daerah. Tampak hadir juga Ketua SPS Sumut sekaligus Ketua PWI Sumut H Farianda Putra Sinik, Sekretaris SPS Sumut Anto Genk dan para pengelola di bidang pers di Sumut.

New Equilibrium

Dari berbagai hal yang dibahas terkait semakin kritisnya kondisi media khususnya cetak di Sumut maupun nasional dan internasional, forum sepakat bahwa persurat kabaran (media cetak) tidak boleh mati, tetapi harus bisa melakukan renovasi dibidang jurnalistik agar lebih komunikatif dan tetap dicintai pembacanya.

Agus Sudibyo menyebutkan, perlu dilakukan reorganisasi dalam pengolahan dan penyajian berita, salah satu yang bisa dilakukan di antaranya menganut new equilibrium (keseimbangan sebuah berita). Bagaimana agar sebuah pemberitaan tersebut lebih mengena terhadap mata pembaca.

Sebuah informasi akan disenangi pembaca bila yang disajikan mengandung hal hal yang informatif, artinya sesuai dengan kebutuhan, dalam (indep) dan nyata alias masuk akal sehingga menambah ilmu bagi yang membacanya.

Sedangkan dari SPS Januar P Ruswita menyebutkan, hadirnya media masa di era digital dalam beberapa tahun belakangan, menjadikan dunia jurnalistik semakin tidak karuan, karena semua orang bisa memnyebarkan informasi walau pada dasarnya itu bukan sebuah pemberitaan.

Para jurnalis bersama pengelola media khususnya cetak, harus berjibaku mencari solusdi dalam menciptakan sebuah informasi agar tetap dibaca oleh para pembacanya. Mampu memberikan keyakinan dan bijak dalam mengajak untuk terus mau membaca apa yang di sajikan.

Sedangkan Nurhalim Tanjung sebagai pengajar jurnalistik menyebutkan, di era digital saat ini setiap wartawan harus memiliki tingkat kejelian tinggi. Karena harus melawan teknologi yang bisa menciptakan banyak informasi.

“Setiap orang saat ini bisa menjadi produsen informasi. Yang dulu dimonopoli oleh wartawan dan media mainstream. Kemunculan media sosial seperti Whatsapp, Facebook, Twiter dan lain sejenisnya, membuat para wartawan semakin kurang perannya di media jurnalistik,” sebutnya.

Oleh sebab itu untuk bisa bertahan harus mampu menciptakan permainan yang bisa mengajak damai para pembaca media cetak, walau tidak bisa mengembalikan minat pembaca seperti semula, namun setidaknya masih bisa memberikan nuansa lain di dunia jurlaistik khususnya media cetak, sebut Nurhalim Tanjung. OR – 07