Tragis! Italia Gagal Lolos ke Piala Dunia 2026

Timnas Italia dipenuhi talenta kelas dunia, namun gagal lolos ke Piala Dunia. (sumber: sindonews.com)

NASIB tragis menimpa Timnas Italia pada babak playoff Piala Dunia 2026, setelah dipastikan gagal lolos ke putaran final tahun ini. Italia berhadapan dengan Bosnia Herzegovina pada pertandingan final playoff Piala Dunia 2026 zona Eropa, menghadapi Bosnia Herzegovina.

Tampil di Bilino Polje, Rabu (1/4/2026) dini hari WIB, Italia sebenarnya mampu unggul lebih dulu melalui Moise Kean di menit ke-15.

Ini menjadi catatan bersejarah di kubu Gli Azzurri, Mose Kean menjadi pemain keempat yang mencetak enam gol beruntun untuk negaranya. Ketiga pemain sebelumnya adalah Adolfo Baloncieri (1928), Luigi Riva (1969), dan Roberto Bettega (1977).

Namun, nasib buruk menimpa Italia ketika Alessandro Bastoni menerima kartu merah di menit ke-41, yang memengaruhi permainan Gli Azzurri di laga penting ini.

Bosnia Herzegovina pun mencetak gol penyama kedudukan di menit ke-79 melalui Haris Tabakovic, yang bertahan hingga babak kedua berakhir. Tambahan waktu tak membuahkan gol, hingga pertandingan pun diselesaikan melalui adu penalti.

Empat algojo Bosnia Herzegovina berhasil menjalankan tugasnya dengan baik, sementara itu di sisi Italia hanya satu dari tiga algojo yang sukses menceploskan bola.

Pio Esposito dan Bryan Cristante gagal menuntaskan tugasnya, hanya Sandro Tonali yang mampu mengeksekusi penalti dengan sempurna.

Hasilnya Italia kalah 1-4 di babak adu penalti dan harus gagal lolos ke Piala Dunia 2026. Ini menjadi kali ketiga secara beruntun bagi Italia gagal lolos ke ajang tersebut.

Ini menjadi catatan buruk bagi Italia sebagai salah satu negara yang pernah memenangi gelar Piala Dunia.

Skuad Mewah

Meski dihuni pemain-pemain top Eropa, skuad mewah yang dimiliki Timnas Italia gagal menembus Piala Dunia 2026. Lantas, apa yang sebenarnya salah? Di atas kertas, Italia punya segalanya. Generasi pemain yang tampil reguler di liga elite Eropa seharusnya cukup untuk membawa Gli Azzurri kembali ke panggung dunia.

Kegagalan ini terasa janggal karena edisi 2026 menghadirkan format baru dari FIFA. Jumlah peserta meningkat drastis menjadi 48 tim, memberi peluang lebih besar bagi negara-negara kuat untuk lolos.

Di kawasan UEFA, jatah tiket bertambah menjadi 16. Secara statistik, peluang Italia seharusnya jauh lebih terbuka dibanding edisi-edisi sebelumnya. Namun lagi-lagi, peluang itu tak mampu dimanfaatkan.

Masalah pertama terletak pada inkonsistensi performa. Italia gagal tampil dominan di fase grup kualifikasi dan hanya finis sebagai runner-up. Situasi ini memaksa mereka kembali ke jalur playoff—fase yang dalam beberapa tahun terakhir justru menjadi “kutukan” bagi Italia.

Faktor kedua adalah rapuhnya mental di laga penentuan. Dalam pertandingan hidup-mati, Italia kembali gagal menunjukkan karakter sebagai tim besar. Kekalahan dari Bosnia-Herzegovina di playoff menjadi bukti bahwa tekanan masih menjadi persoalan serius.

Selain itu, transisi generasi juga belum sepenuhnya mulus. Italia memiliki banyak pemain berbakat, tetapi belum menemukan keseimbangan antara pengalaman dan energi muda. Permainan kerap terlihat tidak solid, terutama dalam momen krusial.

Secara historis, ini menjadi alarm keras. Italia terakhir tampil di Piala Dunia pada 2014, lalu absen di 2018 dan 2022. Kini, kegagalan di 2026 memperpanjang puasa mereka sekaligus mencoreng status sebagai salah satu raksasa sepak bola dunia. Lebih jauh, Italia mencatat rekor yang tidak diinginkan: menjadi juara dunia pertama yang gagal tampil di tiga edisi Piala Dunia berturut-turut.

Dengan kualitas individu yang dimiliki, kegagalan ini bukan sekadar soal teknis di lapangan. Ada persoalan struktural—mulai dari taktik, mentalitas, hingga regenerasi—yang harus segera dibenahi jika Italia ingin kembali ke level tertinggi sepak bola dunia. (sko/sdo/red)