TANAHKARO – Buntut penolakan pasien di Puskesmas Berastagi beberapa waktu lalu, akhirnya Komisi A DPRD Karo memanggil Perawat, Kepala Puskemas (Kapus) Berastagi, dan Kepala Dinas (Kadis) Kesehatan Karo, pada Rabu (17/6/2020).
“Tadi kami (Komisi A) sudah mendengarkan keterangan dari Perawat, Kepala Puskemas Berastagi, dan Kadis Kesehatan Karo terkait masalah yang terjadi di interen mereka,” kata Ketua Komisi A DPRD Karo Inolia Br Ginting, ditemui orbitdigitaldaily.com di halaman gedung DPRD Karo Kabanjahe, Rabu (17/6/2020) sekitar 21.15 WIB malam.
Kata wakil rakyat yang sudah dua kali menjawab sebagai wakil rakyat di Karo ini, memang agenda hari ini tidak mengundang pasien yang sempat ditolak tersebut, hanya mendengarkan keterangan dari Perawat, Kepala Puskemas dan Kadis Kesehatan Karo.
“Terkait permasalahan di Puskesmas Berastagi, kami merekomendasikan agar masalah itu diselesaikan secara internal mereka saja,” sebut Inolia.
Namun sayang, Inolia tidak merinci secara mendetail apa sebenarnya penyebab sehingga Puskesmas Berastagi menolak pasien bernama Rani Br Situkkir itu. Hanya saja katanya, Komisi A DPRD Karo meminta agar pelayanan Puskemas Berastagi harus ditingkatkan lagi apalagi di masa pamdemi Covid-19 seperti saat ini.
Sementara, Kepala Puskesmas Berastagi Dr Rehmenda Sembiring, dikonfirmasi orbitdigitaldaily.com sekaitan pemanggilan dirinya dan sejumlah perawat di Puskesmas Berastagi oleh Komisi A DPRD Karo menyebutkan, hanya untuk klarifikasi masalah “anak buahnya” yang dikatakan tidak melayani pasien dengan baik.
“Untuk keputusannya, kita akan menjumpai pasien kemarin bersama dengan petugas yang dikatakan sempat menolaknya untuk meminta maaf,” jelasnya.
Kata Dr Rehmenda, sebagai Kepala Puskesmas Berastagi dirinya sudah meminta maaf langsung kepada pasien, dengan langsung mendatangi rumah pasien tersebut beberapa waktu setelah videonya viral di media sosial Facebook. Namun sepertinya permintaan maaf itu belum bisa diterima oleh pasien.
Memang katanya, ada sedikit alur yang tidak dijalankan oleh petugas di Puskesmas Berastagi saat akan menangani pasien atas nama Rani Situngkir, sehingga pasien merasa kecewa. “Karena situasi pandemi seperti ini ada rasa was-was dalam penanganan pasien,” tambahnya.
Disinggung terkait ketersediaan alat pelindung diri (APD) yang diduga menjadi salah satu penyebab petugas Puskesmas takut untuk menangani pasien sehingga terjadinya penolakan pasien yang akan berobat, Dr Rehmenda mengatakan bahwa APD di Puskesmas Berastagi banyak.
“Hampir setiap dua minggu sekali kita bagi kepada petugas. Setiap nanti ada pemberian dari dinas atau dari donatur langsung kita bagikan. Jadi bukan karena APD, lebih kepada rasa was-was dan khawatir karena kita lihat banyak petugas medis yang terkena,” ujarnya.
Namun terlihat ada yang berbeda dalam rapat tersebut. Hasil pantauan orbitdigitaldaily.com di gedung DPRD Karo malam itu, terlihat hadir Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Karo Tomi Heriko Sidabutar. Namun Tomi terlihat pelit berbicara tidak mau berkomentar banyak saat ditanya sejumlah wartawan.
“Tanya saja ke Kadis Kesehatan, itukan gawean mereka,” katanya singkat.
Diketahui sebelumnya, seorang pasien mengaku sempat ditolak oleh petugas di Puskesmas Berastagi pada Minggu, 7 Juni 2020. Pasien tersebut bernama Rani Br Situkir warga Kampung Listrik, Kecamatan Berastagi.
Merasakan sakit di dadanya akibat asam lambungnya kambuh, akhirnya dia bersama suaminya memutuskan untuk berobat ke Puskesmas Berastagi.
Namun katanya, setibanya di Puskesmas Berastagi, mereka melihat perawat yang ada di ruangan tiba-tiba menyuruh mereka agar berobat ke Rumah Sakit Amanda saja, dengan alasan korban sudah kelihatan lemas dan pucat.
Tak terima diperlakukan demikian, akhirnya si pasien memviralkan video penolakan atas dirinya di Puskesmas Berastagi melalui akun media sisoal Facebook miliknya atas nama Rani Tungkir Bere Jorang.
Reporter: David Kaka







